Tidur Berdiri

Aku dan beberapa orang menatap seorang ibu yang berdiri menggantung. Tangan kanannya kokoh memegang gantungan. Tangan kirinya memeluk tas. Seorang mbak-mbak menyentuh sekitar lututnya. “Bu, Ibu!” katanya. Beberapa orang mendengar.

Itu kali ke 68 aku naik kereta. Hari Jumat di bulan Agustus. Hari di mana lelah seminggu bersatu mencapai puncak.

Di hari Jumat, aku punya pola tingkah yang berbeda sebagai anak kereta. Pulang kantor tak perlu buru-buru. Kalau biasa jam enam sore sudah cus dari kantor, di hari Jumat aku beranjak jam tujuh atau delapan.

Orang-orang pinggiran kota, seperti dari Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok yang indekos di Jakarta–yang tidak sanggup pulang pergi setiap hari–akan pulang di hari Jumat. Mereka ini membuat kereta sesak mulai jam enam sore hingga sepuluh malam. Selain hari Jumat, biasanya di atas jam sembilan penumpang kereta sudah mulai renggang meski tetap ramai.

Sehingga di hari Jumat aku lebih memasrahkan diri. Tak perlu buru-buru. Yang penting dapat ruang di gerbong. Cukup.

Malam itu, dari stasiun Manggarai ke Bekasi aku kebagian ruang di gerbong lima. Jam 21.35.

Aku menempel di antara tubuh-tubuh yang lebih besar. Menghadap ke dinding kereta sebelah kiri dari arah laju kereta. Di depanku ada orang berdiri kokoh menggantungkan tangan. Di depan orang itu kursi panjang diduduki lima perempuan dan tiga laki-laki.

Di sini terasa nikmat berbadan tak setinggi orang lain. Aku berdiri memeluk tas ransel. Santai. Menutup mata. Tak mungkin aku jatuh meski kereta mengerem mendadak. Sesekali kubuka mata. Mengawas situasi atau kalau kereta berhenti di stasiun-stasiun pemberhentian.

Lalu terdengar pangumuman. “Sesaat lagi kereta Anda akan tiba di stasiun Klender Baru.” Orang di depanku grasak grusuk. Dia sedang mencari celah bergerak ke arah pintu. Dia akan turun di stasiun Klender Baru. Aku bergerak berusaha melonggarkan ruang.

Tepat di depanku sebelah kanan, berjarak dua orang, seorang mbak-mbak juga sedang berusaha beranjak dari tempat duduknya. Tampak dia juga akan turun.

Di hadapannya seorang ibu berdiri. Memegang gantungan tangan dengan kokoh. Tangan kirinya memeluk tas.

Si Mbak coba memberi kode ke orang-orang yang berdiri di depannya. Tapi tak ada yang tanggap. Ia pun terlihat enggan menyentuh.

Kereta semakin melambat. Si Mbak makin tak sabar. Takut tak sempat turun jika kereta berhenti. Karena rata-rata pemberhentian di stasiun kecil tak lebih dari setengah menit.

Kali ini ia memberanikan diri. Ia coba menyentuh si Ibu di depannya. “Bu, Ibu,” katanya sambil menyentuh sekitar lutut si Ibu. Beberapa orang mendengarnya. Termasuk aku. Mataku dan beberapa orang lain menatap si Ibu.

Rupanya ia tidur. Tidur berdiri.

Orang di samping si Ibu membantu membangunkannya.

Sesederhana Mengantongi Bungkus Permen

Nenek Nurjannah Djalil meninggal dunia setelah sempat selamat dari banjir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis pekan lalu. Nenek yang berusia 70 tahun ini sempat viral di media sosial. Fotonya tersebar sedang menggendong cucunya sambil memeluk batang pohon yang digenangi air. Pertolongan baru datang setelah tiga jam kemudian. Ia tak selamat meski telah mendapat penanganan medis. Air kotor telah terlalu banyak mengisi perutnya.

Tiap tahun media menyuguhi kita berita duka banjir. Rumah papan hanyut tanpa sisa. Orang hilang dibawa arus. Nyawa melayang disapu air. Tangis pilu kehilangan orang yang dikasihi.

Banjir adalah bencana alam yang niscaya. Tapi, kita bisa meminimalisir dampaknya.

Penyebab banjir memang kompleks. Faktor alam biarlah menjadi hak prerogatif alam semesta. Tapi faktor manusia bisa diminimalkan.

Membuang sampah pada tempatnya adalah hal paling sederhana. Meski begitu, kesadaran itu belum merata di kita.

Akuilah.

Di jalan raya, ada orang dari dalam mobil yang membuka kaca lalu melempar bungkus chitato ke jalanan.

Di parkiran atau halaman supermarket, ada orang memasukkan uang kembalian ke dompet dan membuang struk belanjaan sembarangan.

Di angkot, ada orang membuang puntung rokok dari jendela kaca atau pintu begitu saja.

Di gereja, permen karet yang sudah tak berasa ditempel di bawah kursi dan bungkusnya dibuang di lantai.

Di lapangan, bungkus plastik bertebaran.

Dua tahun lalu aku ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk pekerjaan kantor. Di sana aku pergi ke rumah salah seorang teman. Di jalan Uray Bawadi, Pontianak Kota.

Meski masih berada di sekitaran pusat kota, kompleks perumahan itu tampak kumuh. Air selokan di depan rumah sejajar dengan teras. Tidak mengalir. Warnanya hitam berlumut bercampur plastik-plastik kecil, seperti bungkus permen. Air menggenangi tengah-tengah jalan yang tidak rata.

Aku sempat protes kepada temanku itu. Kenapa mereka tidak gotong royong membersihkan selokan dan membuang sampah pada tempatnya? Aku tidak habis pikir bagaimana penghuni rumah membuka pintu melihat air selokan sama tingginya dengan keramik teras.

Tahun 2013 lalu, beberapa titik sentral Jakarta lumpuh karena banjir. Bundaran Hotel Indonesia berubah jadi ‘lautan’. Menurut hasil simulasi peneliti Indonesia, Abdul Muhari dan tim di International Research Institute of Disaster Science (IRIDeS), Tohoku University, salah satu penyebab banjir itu adalah penumpukan sampah. Tumpukan sampah itu menutup tiga dari empat pintu air di Karet.

Bagaimana banjir tidak gampang terjadi atau semakin parah jika aliran air tersumbat? Benda-benda yang dibuang sembarangan akan bersatu. Apakah di selokan, sungai, atau laut.

Padahal, bungkus chitato bisa ditaruh dulu di dalam mobil sebelum tiba di tempat tujuan dan membuangnya di bak sampah. Struk belanjaan juga bisa langsung dibuang di tong sampah supermarket. Atau kantongi dulu kalau sudah sempat jauh dari tong sampah. Puntung rokok pun bisa dipegang dulu atau taruh di bungkus rokok sebelum ketemu tempat pembuangan. Apalagi cuma bungkus permen? Kantongi saja dulu.

Kalau hanya belanja pepsodent di alfamart tak usahlah pakai plastik. Taruh saja di kantong, atau jok motor, atau laci mobil. Apalagi kalau anak kos yang jarak alfamart ke kosan cuma secuil, dipegang pun tak apa. Lebih baik lagi menyiapkan tas belanja di dalam mobil atau jok motor.

Sesederhana itu.

Kita mulai dari diri sendiri. Pemerintah memang harus menata wilayah. Mengeruk aliran sungai. Membangun waduk. Mengelola daerah aliran sungai. Memberi izin pendirian bangunan hanya bagi mereka yang memenuhi analisis dampak lingkungan.

Tapi, sembari pemerintah bekerja. Atau sembari kita menuntut pemerintah bekerja, kita mulai dari diri kita. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan. Mudah-mudahan cerita Nenek Nurjannah Djalil tidak terulang.

Desakan Buatan Copet

Desakan itu terasa tak biasa. Saat itulah telepon genggamku raib.

Itu kali ke-26 aku naik kereta. Kali itu, aku pulang bersama teman kantor, Dahlia Rera, yang biasa aku panggil Dai.

Hari itu kami pulang sesuai jam kantor. Jam enam teng sudah bergegas menuju stasiun Palmerah.

Seperti biasa, dari stasiun Palmerah menuju Tanah Abang, kami bisa leluasa duduk di kereta commuterline Jabodetabek.

Sampai di stasiun Tanah Abang, suguhan pemandangannya seperti biasa. Lautan manusia. Sejak menjadi pengguna kereta, aku sudah hafal betul bagaimana bertindak di sini. Tas diransel ke depan. Peluk erat. Dan ketika kereta berhenti, langsung lompat keluar. Sedetik pun terlambat, aku hanya akan terseok-seok di dalam kereta. Ibarat gorengan di kuali.

Aku dan Dahlia gampang saja turun dari kereta. Di peron lima. Yang sulit itu adalah bergerak maju menuju tangga naik untuk pindah peron. Ibarat berenang di lautan. Pelan-pelan menyibak air.

Saat kami sampai, sebenarnya kereta tujuan stasiun Manggarai–stasiun transit kami– sudah tersedia di peron tiga. Tapi karena begitu lamanya menyibak lautan manusia, ketika turun tangga, kereta sudah melaju. Kalau begini ceritanya, biasanya akan lebih lama menunggu kereta berikutnya.

Benar saja. Tidak ada kegiatan lain yang perlu dilakukan selain menunggu.

Aku dan Dahlia bersiap di peron tiga. Berdiri samping-sampingan. Ujung kaki kami tepat di garis kuning peron. Sekitar sedikit lebih panjang dari penggaris tiga puluh sentimeter dari jalur kereta. Kami berdiri paling depan. Ini juga salah satu laku yang sudah kami hafalkan sebagai anker atau anak kereta.

Kami tak banyak bercerita. Masing-masing sibuk dengan telepon genggam. Hanya sesekali saling berhadapan. Menunjukkan video lucu di instagram atau sekadar berkata, “Hadeeh, lamanya.”

Tiga puluh menit kemudian ada penampakan kereta di jalur tiga. Tujuan Bogor. Ini kereta yang kami tunggu.

Kami bersiap. Kurapikan posisi tas di depan perut. Kupeluk ringan. Telepon genggam kumasukkan ke saku celana sebelah kiri. Model sakunya ini menempel miring tanpa penutup. Tapi kantongnya agak dalam sampai ke paha. Orang dari belakang mulai mendesak-desak.

“Dai, siap-siap,” kataku menyemangati. Hanya basa-basi. Sesungguhnya aku yang sedang berusaha menguatkan diri. Jujur saja, dia lebih petarung dibandingkan aku soal urusan naik kereta. Aku masih bocah. Dia orang Bekasi asli yang kerja di Jakarta–tapi sekarang dia sudah indekos yaa–.

Kereta semakin mendekat. Desakan makin menjadi. Dari belakang. Kiri dan kanan.

Saat kereta benar-benar berhenti, orang-orang semakin beringas. Dorongan-dorongan semakin kencang. Aku dan Dahlia terpisah.

Kami menyelamatkan diri masing-masing. Selamat untuk masuk kereta.

Akhirnya! Aku senyum lega menyadari tubuhku sudah ada di dalam gerbong. Berhasil!

Tak perlu berpegangan. Peluk erat tas saja. Kami, penumpang, saling mengelilingi di dalam kereta. Menempel. Erat. Tak akan ada yang jatuh meski kereta ngerem mendadak.

Kereta mulai bergerak. Saatnya bertanya Dahlia di gerbong mana. Hati-hati kugerakkan tangan kiri ke bawah. Takut orang lain mengira tanganku mau bergerak eneh-aneh.

Belum sampai jari-jariku di kantong celana, tiba-tiba aku merasa janggal. Kantong celana plong. Rasa tak ada isinya. Tak ada beratnya.

Benar saja. Telepon genggamku dicopet orang.

Selama perjalanan, aku mulai merenung. Mencoba memutar ulang peristiwa desak-desakan tadi. Memang tak biasa. Aku sudah hampir sebulan naik kereta. Desak-desakan itu hal biasa. Tapi tadi itu memang terasa beda. Dibuat-buat.  

Ada orang yang sudah menilik korban. Mengatur gerakannya.

Hari itu, aku jadi salah satu korban pencopetan. Bisa jadi ada korban lain di stasiun yang sama.

Sejak pertama kali menjadi anker, aku sudah memberi stigma kepada stasiun Tanah Abang sebagai stasiun paling beringas yang aku lewati. Maka setelah telepon genggamku itu raib, aku tak mau lagi melewati stasiun itu untuk berangkat atau pulang kerja.

Kalau mau ke kantor, aku berhenti di stasiun Karet lalu memesan transportasi online. Demikian sebaliknya, dari kantor langsung ke stasiun Karet.

Bukannya menyerah karena peristiwa itu. Tapi ada sisi kemanusiaan yang menurutku tereduksi oleh situasi-situasi di stasiun itu. Yang memang sejak menjadi anker, aku sudah merasakannya.

  

Makan Beralaskan Daun

Tiga daun pisang terbentang di samping tenda. Satu menindih dua yang lain. Melapis. Kami, 12 orang, mengelilinginya. Duduk bersila. Menyantap makanan yang terhidang di atasnya. Kami saling bersenda gurau.

Itu adalah makan malam pertama kami pada acara Jambore Jejak Petualang Community Indonesia 2019. Sekaligus makan malam yang membawaku ke masa lalu. Bernostalgia.

Sebagai anak petani, makan beralaskan daun, itu hal biasa. Dulu, ketika sekolah dasar. Hampir setiap hari. Karena tiap pulang sekolah, wajib pergi ke ladang membantu orang tua.

Di ladang, makan beralaskan daun itu hal paling mudah dan efisien. Tidak perlu mencucinya setelah makan, seperti menggunakan piring. Usai makan, tinggal buang ke bak sampah. Daun-daun itu akan membusuk. Lalu menjadi pupuk kompos.

Banyak daun yang biasa dijadikan alas makan. Jenis daun yang lebar terutama.

Misalnya, daun dari jenis keladi. Karena ukurannya yang besar, daun ini disebut juga daun kuping gajah. Tanaman ini banyak tumbuh di rawa atau tanah berair. Sehingga biasa dipakai ketika di sawah.

Daun jati juga kadang dipakai, jika daun yang lebih lebar tidak ada. Karena ukurannya yang tidak terlalu besar, biasanya daun ini dilapis, dua sampai tiga lapis dengan posisi melebar.

Daun pisang adalah yang umum. Karena bentuknya memanjang, daun ini bisa dipotong-potong sesuai kebutuhan jumlah orang yang mau makan.

Bisa juga tidak dipotong. Makanan langsung ditaruh di atas daun memanjang mengikuti panjang daun, lalu yang mau makan duduk mengelilinginya. Terus bersantap ria. Seperti makan malam pertama kami di acara jambore yang menghadirkan 150 anggota komunitas jejak petualang se-Indonesia di eks lapangan golf Cibodas, Jawa Barat itu.

Hidangan makan malam itu sederhana saja. Nasi putih yang dimasak seadanya–matang berkerak–, sarden kaleng yang dihangatin, chicken nugget, sosis, dan indomie rebus.

Ditambah candaan di setiap suapan. Menceritakan kebodohan sendiri. “Aku kok bodoh ya selalu mau mentraktir kalian makan,” kata Istiqomatul Hayati, salah satu teman yang ikut makan. Bunda, begitu aku sering memanggilnya, adalah teman kantor kami yang memang suka mengajak kami makan. Dan seringkali ajakan makan ini bertujuan agar dia punya teman bergosip. Siapa yang tidak mau ditraktir makan? Apalagi imbalannya cuma bergosip ria. Haha…

Gigi mengunyah. Mulut terbuka lebar tertawa lepas.

Perut kenyang. Jiwa senang.

Makan malam itu membersitkan rindu pada keluarga.

Tapi itu makan malam yang nikmat.

Kita Perlu Berhenti Sejenak

Menyaksikan debat pertama calon presiden dan calon wakil presiden kemarin malam, saya teringat pada Thomas L. Friedman.

Dalam bukunya Thank You For Being Late, ia bercerita kalau di zaman percepatan digital ini, hal yang wajib dilakukan adalah berhenti sejenak. Itu cara meningkatkan peluang untuk mengerti lebih baik dan menghadapi dunia sekitar dengan produktif.

Ia mengutip gurunya Dov Seidman. Ketika Anda berhenti, Anda mulai merenung, memikirkan kembali asumsi-asumsi, membayangkan kembali apa yang mungkin, berhubungan kembali dengan kepercayaan-kepercayaan yang dipegang paling erat. Sesudah melakukan itu, Anda bisa mulai membayangkan kembali jalan yang lebih baik.

Mendengar visi misi dan tanya jawab kedua pasangan calon (paslon) dalam debat kemarin, membuat saya berhenti sejenak.

Benarkah kata-kata adil, makmur, sejahtera adalah kata-kata yang masih ingin kita dengar saat ini?

Benarkah kalimat-kalimat menjamin penegakan hukum, membentuk lembaga hukum yang bersih dan kuat, hukum yang menghadirkan rasa keadilan masih enak didengar telinga saat ini.

Adil, makmur, dan sejahtera hanyalah kata sifat. Yang tidak perlu diucapkan. Karena ia akan terasa jika masalah selesai.

Menjamin penegakan hukum, membentuk lembaga hukum yang bersih dan kuat, hukum yang menghadirkan rasa keadilan juga hanyalah kalimat-kalimat mengambang. Kita sudah mendengarnya jauh, jauh sebelum hari ini.

Lalu apa? Itu yang mestinya digali.

Masa kampanye pesta demokrasi ini sesungguhnya adalah waktu yang tepat untuk berhenti sejenak. Bercermin. Merenung. Di mana posisi Indonesia saat ini. Jika dikaitkan dengan tema debat kemarin, di mana posisi Indonesia dari segi hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Di negara sendiri dan di kancah internasional.

Ini yang harus dikaji. Digali.

Berhentilah sejenak. Mungkin yang perlu dilakukan adalah mengkaji ulang.

Menilik jurnal-jurnal para peneliti. Apa yang ditemui selama ini tentang Indonesia. Bagaimana peneliti melihat posisi Indonesia. Dari segi hukum. Hak asasi manusia. Korupsi. Dan terorisme. Indonesia ada di mana?

Dengan mengetahui di mana posisi Indonesia saat ini, akan muncul strategi-strategi konkret dan tajam untuk diadu. Bukan solusi-solusi yang berdasarkan asumsi, apalagi menurut kami.

Ini yang diumbar kedua paslon dalam debat kemarin.

Paslon nomor urut dua, misalnya mengatakan menurut mereka faktor yang mendorong pejabat publik melakukan tindak korupsi adalah kurangnya gaji. Sekali lagi ini menurut mereka. Saya tidak ingin mengomentari substansinya.

Tapi saya membayangkan jika paslon dua mengatakan, ‘Kami telah mempelajari berbagai hasil penelitian dalam enam bulan terakhir kalau penyebab utama pejabat publik di Indonesia melakukan tindak korupsi adalah kurangnya gaji. Maka jika terpilih, kami akan menaikkan gaji’. Jika begitu saya yakin kualitas debat kemarin akan lebih tajam.

Lalu jawaban paslon nomor urut satu soal pemberantasan terorisme dengan membawa fatwa agama adalah hal yang semestinya tidak terjadi. Indonesia bukan negara agama.

Saya coba membayangkan jika Pak Ma’ruf Amin menyatakan seperti ini, ‘Selama setahun terakhir, kami telah bekerja sama dengan para peneliti dan melakukan penelitian serta kajian tentang terorisme di Indonesia. Dua hal yang akan kami lakukan jika terpilih adalah kontraradikalisme dan deradikalisasi melalui bla bla bla’. Tanpa membawa embel-embel agama, kualitas gagasan Pak Ma’ruf akan lebih kuat.

Itu hanya contoh kecil gagasan dari dua pasangan kemarin. Yang tampak terseok-seok di zaman percepatan ini.

Berhentilah sejenak.

Para Sprinter di Stasiun Kereta Api

Seorang bapak berlari kencang. Sekencang-kencangnya. Menerobos orang-orang tanpa menabrak. Ia jago betul memalingkan tubuhnya dan mengerem kakinya, lalu berbelok, agar tidak menabrak orang di depannya. Dalam sekejap, ia sudah ada di gerbong tiga kereta tujuan Bogor. Pintu otomatis menutup.

Orang yang menyaksikan itu pasti lega. Yes, berhasil! Ibarat sedang menonton pertunjukan.

Itu kali ke-30 aku menjadi penumpang kereta api commuter line Jabodetabek. Kali ini aku sedang berdiri santai di peron empat stasiun Manggarai. Menunggu kereta tujuan Bekasi, seperti biasa.

Di jalur enam sedang berhenti kereta tujuan Bogor. Menunggu pemberangkatan.

Penumpang kereta itu sudah penuh. Semua kursi sudah terisi. Tampak dari banyaknya orang berdiri. Bahkan ada penumpang yang menggantung persis di pintu gerbong. Ini pemandangan biasa sebelum pintu gerbong tertutup.

Di salah satu pintu gerbong enam ada yang sedang berjuang masuk. Dorong sana sini untuk dapat sedikit ruang. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Bagi yang tidak, ada yang menyerah menunggu kereta berikutnya. Ada pula yang terus berjuang dari pintu gerbong lain. Bergeser ke gerbong lima atau empat. Pokoknya mencari celah masuk.

Dari tempatku berdiri tampak ada kereta yang akan masuk di jalur dua. Kereta itu masih ngerem ketika masuk di jalur dua stasiun Manggarai. Geraknya melambat sebelum benar-benar berhenti.

Lalu terdengar suara petugas mengumumkan kalau kereta tujuan Bogor akan diberangkatkan.

Semua penumpang kereta tujuan Bogor di peron enam bersiap berangkat. Yang tadinya menggantung di pintu gerbong, langsung mendorong tubuhnya ke dalam.

Saat itulah tampak seorang bapak. Berlari kencang. Sekencang-kencangnya. Menerobos orang -orang tanpa menabrak. Ia jago betul memalingkan tubuhnya dan mengerem kakinya, lalu berbelok, agar tidak menabrak orang di depannya. Dalam sekejap, ia sudah ada di gerbong tiga kereta tujuan Bogor.

Pintu otomatis menutup. Aku yang menyaksikan lega. Untung selamat. Kereta berangkat.

Bapak itu adalah penumpang kereta yang masuk di jalur dua tadi.

Setelah beberapa bulan jadi pengguna commuter line, pemandangan seperti ini menjadi biasa. Anak muda, perempuan atau laki-laki, bahkan orang tua, berlari cepat seperti sedang lomba sprint atau lari cepat. Demi sedikit ruang di gerbong kereta. Agar tidak terlambat ke kantor atau agar segera memuaskan dahaga ketemu anak, istri, suami, ayah, dan atau ibu.

Mereka adalah para sprinter yang sesungguhnya.

Anak Muda Di Penghujung Pintu Gerbong

Anak muda itu memanfaatkan celah di antara orang-orang yang sibuk dengan diri sendiri. Bergerak pelan menuju seorang ibu paruh baya. Tampaknya ia berkata biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

Ini pemandangan yang sejuk.

Malam itu, kali ke-22 aku naik kereta, dari Manggarai ke Bekasi. Aku menyempil di sudut gerbong tiga. Bersender di dinding sambungan gerbong tiga dan empat.

Dari sanalah aku menyaksikan seorang anak muda. Berdiri di dekat salah satu pintu gerbong. Pintu ujung gerbong tiga. Tak begitu jauh dari tempat aku berdiri. Tangan kanannya memegang gantungan yang memang disediakan untuk orang yang berdiri.

Perawakannya setinggi rata-rata orang Indonesia. Badan proporsional. Kutaksir usianya 27 tahun. Ia mengenakan jaket hitam. Tas diransel ke depan.

Pakaiannya rapi. Semiformal. Kemeja biru muda polos. Dan celana jeans. Aku tidak bisa melihat alas kakinya. Jarak kami dipenuhi orang. Tapi kutebak sepatu jenis boots. Saat dia mengangkat tas si Ibu untuk ditaruh ke bagasi, tampak dia mengenakan jam tangan. Model alexander christie tali kulit.

Awalnya semua penumpang kereta sudah sibuk dengan diri masing-masing ketika kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun Manggarai. Aku sendiri sudah dalam posisi nyaman.

Lalu kereta berhenti di stasiun Klender. Stasiun kelas III/kecil pemberhentian kedua setelah stasiun Jatinegara. Ada penumpang yang turun. Ada penumpang yang naik.

Seorang Ibu paruh baya naik. Dia berdiri di depan pintu. Ia membawa dua tas jinjing dengan ukuran berbeda. Yang kecil dijinjing dan yang sedang ditaruh di lantai.

Kereta mulai bergerak melanjutkan perjalanan, si Ibu mengatur posisinya. Orang-orang kembali sibuk dengan diri masing-masing.

Setelah merasa posisinya nyaman, si Ibu tampak menunduk. Ia mengambil tas yang tadi ditaruh di lantai. Ingin ditaruh di bagasi. Karena tas atau barang apa pun tak boleh ditaruh di lantai. Akan mengganggu orang yang berdiri.

Tapi tas itu tampaknya berat. Dan dengan begitu ramainya orang, ia kesulitan mengangkatnya.

Seorang anak muda kemudian bergerak. Memanfaatkan celah di antara orang-orang yang berdiri. Ia dekati si Ibu, seperti mengungkapkan biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

Si Ibu tampak semringah. Dari gerak bibirnya, ia mengucap terima kasih. Dari raut mukanya, tampak ketulusan.

Di gerbong yang begitu sesak, kutemukan kesejukan tak terkira. Tak sadar bibirku tersenyum. Sejenak dahagaku hilang.

Ibu Paruh Baya di Stasiun Manggarai 

Dari jarak aku berdiri. Aku melihat seorang ibu. Paruh baya. Tengah berjuang masuk ke dalam. Didorong orang yang hendak keluar dari gerbong. Didorong lagi oleh orang yang hendak masuk. ***

Kembali kudatangi stasiun Palmerah. Untuk ke-31 kali. Sore itu tampak lengang. Seperti biasa. Orang lalu lalang hanya satu, dua, tiga, empat, lima. Bagi anak sekolah dasar kelas satu, tak perlu tambahan potongan lidi untuk menghitungnya.

Hari ini aku meninggalkan kantor di jam biasa. 18.05.

Kurasa aku menunggu 15 menit. Kereta tujuan Tanah Abang datang. Tak ramai penumpang. Aku masuk. Duduk di dekat pintu. Bersandar santai.

Aku di gerbong lima. Hanya ada tiga orang lain yang duduk di kursi memanjang berwarna hijau tua yang kududuki. Satu duduk pas di samping pintu satu lagi persis seperti posisi dudukku. Dua orang duduk memisahkan kami. Kursi yang mampu menampung 6-8 orang ini cukup membuat jarak kami begitu lega.

Di seberang kami, kursi yang sama panjangnya, diduduki dua orang. Masing-masing duduk di samping pintu. Berjauhan. Persis seperti aku dan salah satu orang yang duduk sebaris.

Masing-masing dengan kesibukannya. Aku mengulang lagu Calum Scott lagi. If Our Love Is Wrong.

Belum sampai dua kali pengulangan, komuter line tiba di stasiun Tanah Abang. Dari dalam kereta tampak orang berlapis-lapis bersiap di peron. Seperti singa yang siap menerkam.

Kami, penumpang kereta, sudah bersiap turun saat kereta mulai melambat. Begitu benar-benar berhenti, aku langsung keluar. Tanpa hitungan detik. Lalu berjuang menghindar dari kerumuman yang sedang saling dorong masuk ke dalam perut kereta.

Butuh waktu 7-10 menit sejak aku turun sampai ke tangga stasiun Tanah Abang. Sampai di atas, sebelum turun tangga lagi untuk pindah peron, aku berhenti sejenak. Mengambil nafas. Merapikan letak tas yang menempel di perut.

Naik kendaraan umum seperti ini rawan pencurian. Tas ransel harus diransel ke depan, bukan ke belakang.   

Aku harus melanjutkan perjalanan. Aku turun tangga untuk pindah peron. Peron dua, tujuanku pun telah disesaki orang. Kucari celah di antara orang-orang itu. Terus bergerak hingga mendekati pinggir peron. Agar nantinya mudah masuk ke gerbong kereta.

Tiga puluh menit aku berdiri. Kereta tujuan Bogor datang.

Kereta itu semakin mendekat. Kulihat penuh dengan orang. Wajah-wajah menempel di pintu gerbong kereta. Tangan-tangan menahan tubuh memenuhi sisi-sisi dinding kereta. Kuurungkan niat untuk naik.

Tapi, ketika kereta benar-benar berhenti, ternyata banyak yang turun. Sepertinya aku bisa berjuang mendapatkan sedikit ruang. Aku berlomba dengan penumpang lain. Beruntung tubuhku tak besar. Mudah saja aku masuk mengalahkan yang lain.

Aku sudah di dalam kereta. Wajahku dikelilingi ketiak, wajah orang lain, punggung orang lain, dan leher orang lain. Lengket. Tak bisa bernafas lega. Muncul penyesalan. Mestinya tadi aku tunggu saja. Aku menengadahkan wajah ke atas.

Tiba di stasiun Manggarai. Aku turun lagi untuk transit. Aku bertaubat. Tidak akan masuk kalau seramai tadi. Kusibukkan diri dengan telepon genggam dan musiknya.

Selama 20 menit menunggu. Mulut kereta tampak mendekat. Tujuan Bekasi. Ini dia keretanya. Kereta itu semakin mendekat. Pemandangan yang sama. Wajah menempel di pintu gerbong. Sisi kereta dipenuhi tangan-tangan yang menahan tubuh agar tak jatuh. Kuurungkan niat untuk naik.

Aku mundur dari gerombolan orang yang sedang mengumpulkan nyawa dan tenaga untuk masuk. Aku mengalah. Aku menjauh.

Kereta itu berhenti.

Seperti singa lapar. Gerombolan orang di tiap pintu gerbong siap masuk. Peraturannya, orang yang keluar gerbong harus didahulukan. Tapi ini singa lapar. Tak ada kesabaran. Kulihat. Gerombolan orang itu mendesak masuk. Bersamaan. Orang yang di dalam kaget. Tak mau kalah mereka mendorong keluar.

Ada yang berhasil keluar. Ada yang berhasil masuk. Ada yang terseok di dalam kereta. Ada pula yang terombang-ambing di luar kereta.

Dari jarak aku berdiri. Aku melihat seorang ibu. Paruh baya. Tengah berjuang masuk ke dalam. Didorong orang yang hendak keluar dari gerbong. Didorong lagi oleh orang yang hendak masuk.

Sekejap kulihat ibu itu ada di bibir pintu. Sekejap lagi sudah jauh dari bibir pintu. Sekejap kemudian sudah ada di pinggir bibir pintu menjamah tepi bibir pintu. Sekejap lagi sudah menjauh. Cukup jauh untuk dikatakan bisa masuk ke gerbong. Sekejap kemudian dia sudah ada di bibir pintu. Kali ini tangannya erat memegang gagang pintu. Tubuhnya menunduk. Desak-desakan tak henti. Sekajap lagi. Ibu itu tak lagi nampak.

Peluit berbunyi. Kereta bergerak. Meninggalkan orang-orang yang tak berhasil masuk. Meninggalkan orang yang mengalah. Perut kereta kekenyangan.

Kekurangkerjaan Polisi dan Kekurangajaran Media Pada Kasus Prostitusi

Seperti tak ada kerjaan lain, polisi menggerebek salah satu hotel di Surabaya, Sabtu, 5 Januari lalu. Dugaanku, kamar tujuan gerebek mereka sudah jelas. Sehingga kerjaan mereka sesungguhnya hanya datang ke hotel, menunjukkan identitas, sedikit celingak-celinguk pura-pura memeriksa ini itu. Lalu menuju salah satu kamar, berisi dua orang dewasa yang sedang bertransaksi.

Dua orang dewasa. Yang sudah merdeka menentukan jalan hidupnya. Yang sudah mengerti konsekuensi atas pilihannya.

Dua orang dewasa ini lalu ditahan atas tuduhan prostitusi. Iya, prostitusi, salah satu profesi tertua di dunia ini.

Tak lupa, Pak Polisi datang dengan memboyong media. Bak sebuah prestasi tingkat alam raya, mereka kumandangkan keberhasilan ini. Pekerjaan berhasil menggerebek dua orang dewasa di hotel.

Media. Sama saja. Seperti tak ada berita yang lebih penting. Iya, mungkin gak ada sih. 😦

Tak butuh waktu lama, nama salah seorang dewasa yang ditangkap langsung menjadi trending di pencarian google dan media sosial. Judulnya aduhai. Mulai dari gaya a hingga z, wartawan mempermainkan hormon libido netizen. Demi clickbait.

Pertama, tak ada undang-undang yang bisa menjerat dua orang dewasa yang sedang bertransaksi ini. Dalam kitab undang-undang hukum pidana, hanya mucikari yang bisa dijerat hukum.

Terus, membahas profesi prostitusi memang tak ada habisnya. Jika profesi ini bisa dihilangkan dari muka bumi, tak perlu polisi atau DPR sekarang, nenek moyang kita sudah pasti membumihanguskannya pada zamannya. Jadi tidak usah sok pahlawan.

Yang mesti dilakukan itu adalah mengaturnya.

Di Swedia, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjerat si pengguna jasa pekerja seks. Tindakan pengguna itu ilegal, termasuk tindakan yang mengeksploitasi perempuan.

Menurut data mereka, sejak undang-undang itu diterapkan, tahun 1999, angka prostitusi di negara itu turun drastis. Dari 3.000-an orang ke 600 orang. Swedia kemudian digadang sebagai negara yang berhasil mengatur pekerja seks komersial. Meski tetap saja ada yang memperdebatkan keberhasilan itu.

Yang menarik adalah, para peneliti Swedia melakukan penelitian selama 16 tahun untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan seperti itu. Dan di dalam undang-undangnya, mereka mengatur tentang bantuan kepada PSK yang pensiun, dan dana sosialisasi serta pendidikan.

Di Jerman, prostitusi dilegalkan sejak tahun 1927. Para pekerja itu dianggap sama dengan pekerja lain. Memiliki asuransi kesehatan, tunjangan sosial, uang pensiunan, dan wajib membayar pajak.

Nah, Indonesia juga mesti mengadopsinya. Bukan peraturannya, tapi keputusan untuk mengatur profesi yang satu ini. Karena tiap negara pasti berbeda cara pengaturannya. Dimulai dengan melakukan penelitian yang serius untuk mengetahui karakter pekerja seks, pengguna jasanya, dan si mucikari di Indonesia. Lalu membuat regulasi yang dianggap paling tepat.

Jadi, tindakan polisi menggerebek dua orang dewasa itu ya cuma nunjukin mereka kurang kerjaan. Kecuali jika yang ada di hotel itu anak di bawah umur. Yang belum dewasa. Yang belum bisa menentukan pilihan hidupnya. Yang dieksploitasi orang lain. Atau yang perlu dibimbing. Baru ini pekerjaan polisi.

Cara media memblow up dua orang yang digerebek itu pun kurang ajar. Apalagi blow up terhadap salah satu orang dewasanya. Tanpa memikirkan orang-orang sekitarnya, wartawan sesukanya membuat judul-judul yang menjijikkan, secara beruntun.

Penggerebekan dua orang dewasa di hotel itu sungguh kekurangkerjaan polisi. Dan pemberitaan kasus itu sungguh kekurangajaran media.

Tapi tak semua polisi kurang kerjaan. Hanya beberapa. Dan tak semua media kurang ajar. Hanya beberapa. Juga wartawan. Hanya beberapa.

Film Keluarga Cemara Mungkin Ingin Menceritakan Bagaimana Orang Kaya Membayangkan Hidup Orang Miskin

Spoiler berat. Jangan baca! 

Film keluarga cemara sukses mengobral cerita sedih keluarga yang jatuh miskin. Melupakan detail-detail yang bermakna. Itu kesanku usai duduk selama kurang lebih dua jam di dalam bioskop.

Wanita di sampingku kutahu beberapa kali meneteskan air mata. Wong dia senderan di bahuku. Heheu.

Dialog dan adegan harunya memang dapat. Dan buanyak. Salah satunya nih, adegan ketika si Abah bilang, “Kalian semua tanggung jawab Abah!” Lalu Euis dengan air mata menimpali, “Kalau kami semua tanggung jawab Abah, Abah tanggung jawab siapa?” Terus Emak, Euis, dan Abah berpelukan. Adegan pelukan ini pun lama. Bikin iman runtuh. Makanya banyak yang mewek. 😀

Tapi yang hilang menurutku adalah makna di balik semuanya. Aku tak merasa adegan-adegan itu sebagai satu kesatuan. Seperti terpisah. Sehingga di akhir film, bingung mau memetik apa pesannya.

Kalau mau disebut pesannya adalah keluarga sebagai sumber kebahagiaan, bukan harta, atau menghargai kerja keras ayah, atau teman yang saling mendukung. Ini terlalu umum, kan. Makan kita sehari-hari ini. Tak perlu difilmkan. Kita kan ingin mendapat sesuatu yang lebih.

Coba nih aku sebutin beberapa hal yang mengganjal yang kuingat.

Lebam di wajah Kang Fajar sama sekali kelihatan bohongan. Ini seperti menunjukkan film ini tidak serius digarap. Maaf lo ya. Maksudku itu detail yang penting. Meski hanya tampil beberapa detik, ya tetap harus all out.

Kedua, ketika Abah jatuh saat bekerja bangunan dan Emak memberi tahu dia hamil. Lalu tiba-tiba banget hamilnya udah kayak 6 bulan. Yang tidak masuk akalnya adalah, kaki si Abah masih di perban seperti saat pertama kali diperban usai jatuh sementara hamil si Emak sudah mencapai bulanan.

Emang kaki si Abah segitu parahnya sehingga berbulan-bulan belum sembuh? Kalau memang iya separah itu, kenapa setelah jatuh tidak dilarikan ke rumah sakit, kok hanya dikompres di rumah. Maksudku tidak ada adegan atau dialog yang menunjukkan itu sangat parah. Ini juga detail yang terlupakan.

Lalu, sejak perut si Emak tiba-tiba kayak udah enam bulan, jarak ke kelahiran begitu lama. Sehingga tidak proporsional pembagian waktunya. Tidak masuk akal. Kayak lo tiba-tiba sedang makan tapi gak selesai-selesai berjam-jam.

Ketiga, si Teteh Euis anak yang sangat dewasa. Orang kota lalu tinggal di desa. Euis tidak mudah menjalani adaptasi ini. Kelihatan betul penggambarannya. Tapi akhirnya ia mau berjualan opak. Untuk ini, aku salut.

Yang kukritik adalah sikap marah-marah Abah pada Euis, seperti menolak Euis ketemu teman-temannya. Sebagai kepala keluarga yang sudah pernah tinggal di kota, punya pengalaman, dan mungkin juga dia berpendidikan karena sebelumnya ia punya perusahaan di kota, mustahil rasanya punya sikap seperti itu.

Sehingga sikap marah-marahnya pada Euis itu tidak berdasar. Kecuali ia dikisahkan sebagai ayah yang akhirnya mengalami gangguan mental setelah bangkrut. Ini detail yang juga dilupakan sehingga karakter Abah menjadi kurang kuat.

Terus tiba-tiba si Abah beli motor. Ini juga ujug-ujug gitu. Nggak ada adegan atau dialog yang menunjukkan kalau dia masih punya uang untuk membeli motor. Apakah itu belinya kredit atau tunai, tetap aja berasa ujug-ujug.

Selanjutnya soal adegan gerobak dorong saat Emak mau melahirkan. Aku lupa namanya, panggil aja si Mas, yang membantu mendorong. Itu adegan lucu tak berkelas.

Tak mungkinlah begitu. Apalagi di desa. Rasanya tidak ada orang desa seperti itu. Masa lagi mendorong gerobak berisi ibu hamil yang mau melahirkan malah jatuh kelelahan. Manja sekali. Jatuh kelelahannya itu pun, ya kayak main-main.

Karena melahirkan itu kan sesuatu yang serius, ya. Kecuali ini film komedi, ya sah-sah saja. Detail yang diremehkan kalau ini.

Lalu pemilihan Bogor sebagai tempat pindah setelah bangkrut. Kok rasanya kurang jauh ya dari Jakarta. Okelah itu rumah warisan. Tapi kurang greget ketika jatuh miskin lalu pindahnya ke Bogor yang jaraknya hanya seupil dari Jakarta. Coba pindahnya lebih jauhlah dari Jakarta, misalnya ke Purbalingga atau Medan sekalian. Hehe.

Kalau penulis novel Indonesia Leila S. Chudori pernah bilang, “Semua tindakan tokoh, seperti kalimat yang diucapkan, keputusan yang diambil, pakaian yang dikenakan, harus mendukung karakter si tokoh dan memiliki relevansi dengan bangunan keseluruhan cerita.” Ini yang kurang di film ini.

Selama hampir dua jam di bioskop, aku banyak tertawa dan senyum. Gemes melihat aksi Ara. Film ini juga sarat humor tingkat tinggi. Dan akting para pemeran tak usah diragukanlah. Terus adem ayem banget dong mendengar suara Bunga Citra Lestari, pengisi soundtracknya. 🙂

Jadi, ya begitulah. Film ini sukses mengobral kesedihan hidup keluarga miskin.

Oh ya, mungkin karena aku lahir di keluarga miskin, jadinya melihat film ini dari sudut pandang orang yang pernah hidup susah. Film ini mungkin ingin menceritakan bagaimana orang kaya membayangkan hidup orang miskin.