Orang Miskin Berdialog dengan Dirinya Sendiri

Orang miskin berdialog dengan dirinya sendiri. Kalimat ini tiba-tiba saja muncul di benak usai membaca kalimat Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam buku biografi terbarunya. Pada halaman 13, di Menuju Cahaya, ia katakan Orang kecil lebih banyak berdialog dengan dirinya sendiri.

Jujur, aku berhenti sejenak setelah membaca kalimat itu.

Kawan, percayalah! Hanya dari mulut orang miskin kalimat seperti itu bisa keluar.

Orang miskin. Makan tiga kali sehari susah. Pantang sakit karena rumah sakit hanya tempat orang berduit. Diusir dari rumah kontrakan karena tak sanggup bayar. Tinggal di bantaran sungai yang sewaktu-waktu dapat digusur. Dan sebutkan sendiri yang lainnya.

Satu pengalaman hidup miskin yang paling menyedihkan Jokowi, yang ia bagikan dalam bukunya itu adalah ketika rumah kontrakan yang mereka tinggali di bantaran Kali Pepe digusur pemerintah daerah. Kali ini jauh lebih memukul ketimbang tergeser oleh orang yang bisa membayar kontrakan lebih tinggi. Demikian ia tulis di halaman 34.

Penggusuran itu tanpa aling-aling. Tanpa dialog. Tanpa solusi. Buldoser datang. Suruhan pemerintah.

Ketika buldoser merubuhkan rumah-rumah itu. Orang miskin, yang tinggal di sana, bisa apa? Teriak? Siapa yang dengar?

Ini jadi semacam nostalgia sih. Dulu, di tahun 2000-an.

Waktu belajar di sekolah dasar saja begitu susah. Bayar SPP yang cuma dua ribu saja sebulan sulitnya minta ampun. Apalagi mau beli buku.

Kepingin beli buku, mau berteriak ke siapa?

Mau makan sepulang sekolah, tidak ada nasi, mau berteriak ke siapa?

Orang miskin kemudian merenungi nasib. Menyerah atau berjuang. Solusi atas persoalan itu muncul dari hasil perdebatan dengan diri sendiri. Jokowi mengatakannya dengan nrimo. Sikap nrimo itu melahirkan ketegaran. Jauh lebih baik kami memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan hidup ketimbang memelihara kesedihan.  Begitu ia tulis di halaman 30.

Tapi sekarang sudah jauh beda. Sekolah gratis dari SD hingga SMA. Buku difasilitasi di perpustakaan. Meski juga belum memadai. Tapi sudah ada orang-orang yang peduli literasi, mengirimkan buku tiap tanggal 17, gratis.

Orang-orang kalau digusur dari bantaran sungai pun tak terjadi begitu saja. Ada dialog yang dibangun berkali-kali. Ada rumah yang dibangun sebagai pengganti. Meski ada kekurangannya, tapi minimal ada solusi yang ditawarkan.

Orang sakit pun tidak lagi takut ke rumah sakit. Ada BPJS yang menjamin pelayanan terhadap mereka. Meski ada saja pengalaman buruk pasien menggunakan fasilitas ini, tapi tetap lebih banyak orang yang merasakan manfaat. Bagaimanapun, tak semua orang bisa dengan mudah menerima perubahan.

Rupanya dialog orang miskin dengan dirinya sendiri menghasilkan solusi untuk orang banyak. Ketika orang miskin itu memegang kendali atas kebijakan-kebijakan. Ini seperti mimpi.

Belum semuanya baik. Tapi arah kepada perbaikan itu kelihatan.

Mudah-mudahan, Indonesia akan semakin baik.

Pura-pura Tidur

Pak Satpam masuk dari sambungan gerbong tiga ke empat. Seorang bapak renta mengikutinya. Bola mata Pak Satpam lincah bergerak ke kiri dan kanannya. Menembus sela-sela di antara orang berdiri. Ia hampir putus asa. Semua orang yang duduk tampak tidur.

Saat itu aku sudah mulai hafal perilaku orang-orang di kereta. Itu malam hari, pulang dari kantor, kali ke 126 aku naik kereta.

Di kereta, ada orang yang bisa tidur berdiri. Tak perlu kau tanya bagaimana mungkin. Keadaan bisa menjadikan apa pun bisa terjadi. Aku pernah menceritakannya di sini.

Ada yang pura-pura serong kiri kanan. Dorong depan belakang. Beragam maksudnya. Ada yang melecehkan orang lain karena nafsu birahi. Ini juga ada ceritanya di sini. Ada pula yang hanya ingin bersandar karena tidak kebagian gantungan tangan.

Bagi yang duduk, tidur adalah pilihan paling nyaman.

Bagi yang benaran tidur. Pertama, mungkin dia kelelahan. Kedua, dia ingin mempertahankan kekuasaan pada kursinya.

Tapi, ada juga yang pura-pura tidur. Wajah yang benaran tidur dengan yang pura-pura tidur sesungguhnya kelihatan jelas. Tapi ya prinsipnya usaha. Tujuannya jelas, mempertahankan status quo pada kursinya.

Demikianlah pada malam itu. Tampaknya Pak Satpam sudah mencari-cari kursi di gerbong tiga kereta yang membawa kami dari stasiun Manggarai ke Bekasi. Tapi tidak ada yang kosong dan tidak ada yang merelakan kursinya untuk si Bapak yang tua renta. Hingga ia sampai di gerbong empat. Si Bapak tua setia mengikut dari belakang.

Wajah Pak Satpam tampak putus asa. Melihat semua penumpang di kursi kiri dan kanan tak ada yang terjaga. Semua tidur. Ada yang menutup wajahnya dengan kopiah, jaket, sapu tangan, ada juga yang tidak sama sekali. Tapi tampak pulas.

Dari tadi sebenarya perhatianku tertuju pada seorang anak muda yang duduk. Mungkin usianya 23 tahun. Kadang ia melirik telepon genggamnya. Lalu menutup mata. Melirik sekeliling. Lalu menutup mata. Sebagai anak kereta yang sudah tidak culun lagi, aku cukup paham tingkah-tingkah seperti ini.

Kubilang sama Pak Satpam, “Mas yang itu coba Pak dibangunkan.” Aku menunjuk pada anak muda itu.

Pak Satpam mendekati si anak muda. Pundaknya disentuh. “Mas,” kata Pak Satpam. Anak muda langsung membuka mata. “Tolong kursinya Mas untuk Bapak ini,” ujar Pak Satpam.

Anak muda itu bergegas. Si Bapak yang renta lalu duduk.

Kalau Mau Nyaman, Naik Taksi Sana

“Ibu kalau mau nyaman naik taksi sana!” kata seorang ibu kepada seorang ibu yang lain dengan suara yang mengagetkan satu gerbong. Berpasang-pasang mata sontak menghadap mereka.

Kejadian itu hanya beberapa detik usai pintu otomatis kereta menutup. Kereta dari stasiun Tanah Abang ke Bogor. Aku masih anak kereta yang culun. Di kali ke empat menumpangi kereta pulang kantor. Pukul 19.05.

Stasiun Tanah Abang tidak pernah sepi. Aku sudah mendengarnya dari orang-orang sebelum aku sah menjadi anak kereta. Selain dipenuhi orang-orang yang bekerja, stasiun ini dipenuhi orang-orang yang belanja di pasar tanah abang.

Tidak heran, ada ibu-ibu atau bapak-bapak atau mbak-mbak dan mas-mas membawa gondolan belanjaan. Di kardus. Di karung goni. Di plastik besar. Ada yang bawa dua tiga empat atau hanya satu.

Aku sudah bersiap masuk gerbong ketika kereta mulai makin melambat di jalur tiga. Aku akan naik kereta tujuan Bogor untuk transit di stasiun Manggarai. Dari Manggarai baru nyambung ke Bekasi.

Ada beberapa ibu yang sudah bersiap juga dengan gondolan belanjaan. Ibu-ibu itu tidak sendirian. Mungkin itu suami atau anaknya yang menemani. Atau temannya.

Sempat terpikir, bagaimana ibu-ibu ini akan masuk ke dalam gerbong dengan kondisi kereta yang sangat ramai penumpang. Yang menunggu di peron saja sudah desak-desakan. Tapi sekali lagi, itu pikiran culunku.

Mereka pejuang-pejuang gerbong. Yang sudah terbiasa.

Ketika kereta benar-benar berhenti, para penumpang di dalam gerbong mulai keluar. Ada yang melompat. Buru-buru. Menghindari kami, penumpang yang mau masuk duluan menyerobot ke dalam.

Ada saja gerak penumpang yang turun lambat. Yang begini akan jadi korban seok-seok. Didorong dari luar. Didorong dari dalam. Umpatan terdengar.

Akhirnya aku berhasil masuk. Ramai. Padat. Aku mulai beradaptasi. Wajah aku tengadahkan ke atas. Tas ransel kupeluk erat di perut.

Hanya berselang beberapa detik, terdengar keriuhan.

“Ibu kalau mau nyaman naik taksi sana!” kata seorang ibu ke seorang ibu yang lain. Sekejap beberapa pasang mata menghadap mereka.

Rupanya itu suara salah satu ibu yang tadi, yang tak jauh dariku saat menunggu kereta, yang membawa gondolan belanjaan. Di gerbong pun jarak kami sangat dekat. Dia berdiri pas di depan pintu. Aku memegang gagang pintu. Menempel di dinding kursi panjang.

Dia marah pada seorang ibu karena si Ibu ini menunjukkan wajah tidak senang karena belanjaan si Ibu menimpa kakinya. Wajah masam itu ia hadapkan pada si Ibu yang punya belanjaan sambil menggeser kakinya. Terdengarlah teriakan itu.

Si Ibu yang disemprot tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menggeser tubuhnya. Sedikit serong menjauh dari penampakan ibu yang punya belanjaan. Tidak ada ruang untuk benar-benar menjauh.

Mungkin dia sudah lelah dengan pekerjaan di kantor hari itu. Membalas semprotan si Ibu hanya membuang energi. Tak berguna.

Aku setuju dengan tindakannya.

Kereta terus melaju. Gerbong membisu.

Kecopetan di Kereta Adalah Bentuk Kehilangan Paling Ikhlas

Seorang bapak-bapak tampak gusar. Kedua tangannya gesit meraba saku-saku celana dan saku kemeja yang menempel di dada kirinya. Telepon genggamnya raib. Kejadian itu hanya barang sedetik setelah pintu otomatis menutup. “Ah, yasudahlah,” katanya akhirnya.

Aku sedang berselancar di instagram ketika kereta berhenti di stasiun Sudirman. Stasiun pertama setelah Manggarai. Kereta akan mengakhiri perjalanan di stasiun Tanah Abang setelah melewati stasiun Karet. Waktu menjelang siang di kali ke 17 aku naik kereta hendak ke kantor.

Di gerbong aku berdiri, hampir tujuh puluh persen penumpang turun. Aku sendiri turun dulu untuk memudahkan penumpang lain yang mau keluar. Setelah semua turun, baru aku naik lagi. Plong. Pintu otomatis menutup. Kereta beranjak.

Daerah Sudirman memang salah satu pusat bisnis di DKI Jakarta.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak di dekatku tampak grasak grusuk. Kedua tangannya lincah meraba saku celana dan kemejanya. Beberapa kali ia meraba saku kemeja yang menempel di dada kirinya. Beberapa kali juga ia meraba saku samping dan belakang celananya.

Karena begitu banyaknya penumpang tadi dari stasiun Manggarai, aku tidak tahu persis si Bapak ini penumpang baru naik di stasiun Sudirman atau tidak. Tapi aku menduga ia bukan penumpang baru.

“Kenapa Pak?” aku bertanya.

“HP-ku, kayaknya ada yang ambil,” katanya.

Ia cek lagi saku-saku di celana dan kemejanya. Benar, raib.

Penumpang-penumpang lain menunjukkan empati. Ada yang mencoba menduga-duga. Mungkin HP-nya tadi diambil pas penumpang banyak yang turun. Kayaknya dari tadi Bapak sudah diintai. Tadi emang taruh di mana Pak? Waduh, kalau hilang di kereta mah gak bakal ketemu. Kemarin malam ada juga yang kecopetan di stasiun Tanah Abang. Dan lain-lain.

Si Bapak sempat tampak lemas. Tapi, “Ah sudahlah,” katanya akhirnya. Mukanya berubah biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Kecopetan di kereta memang bentuk kehilangan paling ikhlas.

Mau berkata apa lagi?

Dua kata yang diucapkan si Bapak itu memang ampuh menenangkan suasana. Tak ada lagi duga-duga yang tidak membantu. Semua kembali pada posisi nyaman masing-masing.

Pada dasarnya mental copet memang masih digemari sebagian orang. Apalagi di kereta sistem keamanannya belum memadai, misalnya belum ada CCTV. Sehingga ketika terjadi copet, tidak ada usaha lain yang perlu dilakukan selain mengikhlaskan. Karena berusaha menemukan pencopet hanya akan membuat kita tampak bodoh.

Kursi di Kereta, untuk Siapa?

Si Kakek, kutaksir usianya 60 tahun, memberi kursinya kepada si Mbak, kutaksir usianya 32 tahun. Si Mbak, sambil mengucapkan terima kasih, duduk. Si Kakek, sambil memegang kantongan plastik di tangan kiri, berdiri dan meraih gantungan tangan.

Konstruksi yang dibangun bertahun-tahun lamanya, tentang laki-laki dan perempuan memang telah begitu mengakar. Laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Oleh karena itu, pantang perempuan berdiri di dalam kereta atau transportasi lainnya.

Itu adalah kali ke 12 aku naik kereta. Malam itu kereta sudah mulai sepi. Dari stasiun Manggarai berangkat pukul 21.25 menuju Bekasi. Meski sepi, aku tetap berdiri. Di gerbong enam. Kursi-kursi terisi penuh. Yang berdiri satu dua tiga orang. Itu malam Rabu.

Kalau kondisi gerbong seperti ini, biasanya aku larut di internet. Menonton youtube ajang pencarian bakat bernyanyi yang diunggah akun youtube stasiun televisi. Pindah ke instagram. Scroll up scroll down. Searching video-video lucu. Aku tidak begitu peduli pada pemberhentian di stasiun-stasiun kecil.

Namun, ketika kereta baru saja bergerak meninggalkan stasiun Klender Baru, perhatianku tertuju pada satu baris kursi di sebelah kiriku.

Ada penumpang yang baru masuk. Seorang perempuan, yang kutaksir berusia 32 tahun. Tampaknya ia baru pulang dari kantor. Pakaian yang dikenakan rapi. Kemeja bunga-bunga dominan warna biru muda dengan celana bahan hitam. Ia meransel tas ke perut. Sepatunya pansus hitam.

Ia berjalan mendekati kursi yang diduduki lima perempuan dan tiga laki-laki. Tujuh dari delapan orang itu menutup mata. Tidur atau pura-pura tidur. Hanya satu orang, yang dari penampakannya lebih sopan dipanggil Kakek, terjaga. Rambutnya dominan putih. Jaketnya tebal. Wajahnya tampak penuh garis-garis tebal dan halus.

Perempuan itu mendekati si Kakek.

Lalu si Kakek berdiri, mempersilakan si perempuan yang baru mendekat untuk duduk. Si perempuan itu mengucap terima kasih, lalu duduk. Si Kakek berdiri sambil meraih gantungan tangan.

Penampakan ini mungkin biasa saja. Apalagi di Indonesia yang kental budaya patriarkinya. Laki-laki dikonstruksikan sebagai sosok yang tangguh. Harus mengalah pada perempuan.

Jika si Kakek memberi kursinya karena takut dianggap tidak tangguh, betapa malang dia. Jika si perempuan menerima tawaran kursi itu karena merasa lebih berhak sesuai dengan jenis kelaminnya, betapa kurang belajar dia.

Bukankah sebaiknya memilih duduk atau tidak di dalam kereta, hal yang mesti jadi pertimbangan adalah ketahanan tubuh? Bukan jenis kelamin. Ada laki-laki yang lebih kuat dari perempuan. Ada juga perempuan yang lebih kuat dari laki-laki.

Jenis kelamin bukanlah patokan ketahanan tubuh. Jenis kelamin adalah bagian tubuh yang membedakan laki-laki dan perempuan secara biologis.

Tentu memberi kursi kepada Ibu hamil adalah keharusan. Tapi bukan karena ia perempuan, tapi karena ketahanan tubuhnya sedang lemah karena membawa jabang bayi di perutnya dan penting untuk keselamatannya.

Pengalaman seperti malam itu berkali-kali aku saksikan selama menjadi anak kereta. Kita masih perlu banyak berefleksi.

Pelecehan

“Heh, tanganmu!” Seorang perempuan berteriak. Demikianlah pelecehan itu terjadi.

Di kali ke 56 aku naik kereta rel listrik atau krl, stigma orang-orang pada kereta itu kusaksikan sendiri. Di krl sering terjadi pelecehan seksual. Begitu kata mereka.

Sebenarnya pelecehan seksual tidak mengenal tempat. Bisa terjadi di mana saja. Hanya karena kondisi krl yang selalu penuh penumpang, terutama saat jam berangkat dan pulang kantor, transportasi besi berjalan itu menjadi tempat yang rentan pelecehan terjadi.

Kereta yang mengangkut kami dari stasiun Manggarai ke Bekasi malam itu berjalan seperti biasanya saja. Di malam Kamis, jumlah penumpang ramai.

Waktu itu sudah mendekati pukul sembilan malam. Jumlah kami sudah mulai sedikit berjarak. Aku tak perlu menengadahkan wajah ke atas. Ada ruang-ruang di antara kepala, pundak, leher, dan punggung yang bisa membuatku bernafas sedikit lebih leluasa.

Kereta baru saja meninggalkan stasiun transit Jatinegara. Tak sampai sepuluh menit, kereta sudah mulai lagi melambat. Tanda kereta akan berhenti lagi. Kali ini di stasiun Klender.

Kereta semakin melambat. Semakin pelan. Pengumuman pun sudah berganti dari kereta Anda akan tiba di stasiun Klender menjadi, “Hati-hati pintu sebelah kanan akan segera dibuka.”

Tiba-tiba seorang perempuan berteriak. “Heh, tanganmu!”

Suara itu membuat penumpang di gerbong empat bangun. Bangun dari tidur, bangun dari ketidaksadaran, bangun dari lamunan. Termasuk aku. Mencari sumber suara.

Kami menatap ke arah perempuan yang berteriak. Di depannya seorang laki-laki menunduk salah tingkah.

Jarakku tidak begitu jauh. Hanya dilapis tiga empat orang. Namun aku tak bisa melihat penuh wajah laki-laki itu.

Dia mengenakan jaket abu-abu. Tidak pakai tas. Rambutnya hitam pendek sedikit beruban. Mungkin usianya 43 tahun.

Seorang ibu-ibu melibatkan diri. “Kenapa tadi Mbak?” dia tanya.

“Ini, aku sudah awasi sejak tadi gerak-geriknya, pegang-pegang saya, kamu pikir saya apa?” katanya lantang menghadap si laki-laki. Ia melotot. Si laki-laki menunduk.

Kereta sudah berhenti. Ada yang masuk dan keluar. Kami, yang mengetahui kejadian itu masih melotot kepada si laki-laki itu. Laki-laki yang terus menunduk.

Meski ia menunduk, ia tahu berapa pasang mata yang menatapnya. Sekejap, ia melompat dari gerbong. Hanya barang sedetik, pintu otomatis kereta menutup.

Ia tampak berjalan jauh, jauh. Menjauhi kereta yang turut menjauh.

Demikianlah pelecehan seksual itu terjadi.

Pengalaman serupa kemudian kusaksikan kurang lebih tiga kali selama menjadi anak kereta.

Bisakah Kita Tidak Membunyikan Klakson?

Ada saja orang membunyikan klakson di jalanan yang ramai kendaraan atau macet total.

Ada pula yang membunyikan klakson dari belakang orang yang sedang jalan kaki.

Ada lagi yang membunyikan klakson berkali-kali sedetik setelah lampu merah berganti jadi hijau berharap kendaraan di depan segera meluncur.

Ada juga orang membunyikan klakson sekali dua kali tiga kali empat kali sebagai tanda dia mengangkut penumpang.

Yang intinya semua itu memekakkan telinga. Mengotori lingkungan. Mengakibatkan polusi suara.

Bisakah kita tidak membunyikan klakson?

Pada prinsipnya tidak ada orang yang mau berleha-leha di jalanan. Semua ingin cepat tiba di tujuan. Apalagi di Jakarta.

Jadi bunyi klakson yang bermaksud membuat pengendara lain memberi ruang bebas sama sekali tidak berguna. Kecuali untuk mobil ambulans dan pemadam kebakaran.

Maka gila saja ada orang yang membunyikan klakson saat jalanan macet total.

Seminggu lalu, aku pulang ke kos selepas mengantar pacar dari kantor ke kosnya. Sekitar lima ratus meter dari sebuah perempatan jalan, terjadi macet total.

Aku mengendarai kendaraan roda dua. Posisiku pas di samping kiri dari arah melaju, hampir menyentuh trotoar. Di depanku persis, ada kendaraan roda dua juga dan sedikit serong ke kanan ada mobil.

Tiba-tiba terdengar bunyi klakson. Mengagetkan. Beberapa orang menatap pada sumber bunyi. Termasuk aku.

Pas di samping kiriku, seorang pengendara mobil baru saja melakukannya. Kedua jendela kaca depan mobil itu terbuka. Sehingga tampak wujud manusia itu.

Anak muda. Mungkin usia 27 tahun. Tangan kanannya disender ke jendela kaca sebelah kanan. Santai.

Gila benar!

Tak jarang juga kita menyaksikan orang membunyikan klakson dari belakang orang yang sedang jalan kaki.

Padahal jalan itu milik umum. Siapa pun bisa memakainya. Baik pengendara atau pejalan kaki. Percayalah, tidak ada orang berjalan kaki di jalan raya kecuali mau nyebrang. Itu pun mereka tidak menyeberang dengan leha-leha. Pasti berusaha cepat.

Tidak ada juga orang yang mau berleha-leha di gang atau jalan kecil ketika tahu ada kendaraan di belakangnya. Lampu depan kendaraan sudah cukup membuat mereka untuk menepi. Berilah mereka waktu untuk menepi. Tidak perlu dikagetkan dengan bunyi klakson.

Demikian pula ketika lampu merah berganti jadi hijau. Tiap orang butuh waktu untuk mempersiapkan diri dan kendaraannya melaju lagi. Tidak perlu diklakson dari belakang. Tak ada pengendara yang mau berlama-lama di lampu merah.

Yang mungkin beda adalah para pengendara angkutan umum. Kadang mereka membunyikan klakson untuk memberi tanda kepada orang yang di pinggir jalan atau ada di dalam gang bahwa mereka mengangkut penumpang. Ini tujuannya beda. Lebih kepada komunikasi. Tapi tetap saja sebaiknya tak terus-menerus. Cukup sekali atau dua kali.

Telah banyak hasil penelitian yang mengungkap kalau bunyi klakson salah satu penyebab orang berisiko penyakit jantung. Apalagi kalau sebelumnya sudah memiliki risiko penyakit jantung. 

Journal of The American College of Cardiology mengungkapkan polusi suara sangat memengaruhi kesehatan kardiovaskular. Polusi suara meningkatkan hormon stres yang berbahaya pada arteri jantung dan beberapa bagian tubuh lain. 

Tentu itu selain dampak-dampak lain yang secara nyata, seperti suara klakson bisa membuat orang berkelahi di jalanan, menurunkan sistem pendengaran, membuat terkejut yang kadang-kadang jadi pemicu tabrakan.  

Kalau kita bandingkan dengan negara lain, misalnya yang dekat saja dengan Indonesia. Singapura dan Jepang adalah dua negara yang tertib dalam berkendara. Kita jarang mendengar klakson di jalanan. 

Mengutip cerita seorang wartawan detik.com ketika berjalan-jalan di Jepang, ketika bus yang ditumpanginya berhenti karena ada bus yang menurunkan penumpang di depannya, ia tidak membunyikan klakson. Ketika ditanya kenapa, ia menjawab, “Tak perlu membunyikan klakson kalau untuk sesuatu yang tidak penting, hanya membuat bising.” 

Di Singapura, mengutip dari fastnlow.net pengendara tertib berhenti di belakang garis putih saat di traffic light atau lampu merah. Saat lampu sudah berganti dari merah ke hijau, tak ada terdengar bunyi klakson dari belakang agar yang di depan buru-buru melaju. Beda sekali dengan di Indonesia. 

Di Indonesia bunyi klakson sebenarnya ada aturannya. Yaitu paling rendah 83 desibel atau sekeras bunyi hair-dryer atau blender. Bunyi ini termasuk kategori keras. Dan paling tinggi 118 desibel atau sekeras pesawat jet saat lepas landas atau bunyi sirene. Bunyi ini masuk kategori menyakitkan. 

Jika melanggar aturan bunyi itu, ada sanksi denda Rp 250 ribu atau kurungan satu bulan. Pertanyaannya, pernahkah dijalankan? 

Tapi terlepaslah dari situ, ini hanya soal kedewasaan kita berkendara. Ayolah berubah, lebih tertib berkendara. Bunyi klakson tak akan bisa mengubah apa-apa.

Titik Terendah Kemanusiaan

Kurasa titik terendah kemanusiaanku berada pada saat menumpangi kereta rel listrik. Saat kali ke 41 aku naik commuterline Jabodetabek.

Kereta yang kutumpangi dari stasiun Manggarai ke Bekasi berangkat pukul 20.35. Seperti biasa, aku menempel di antara punggung-punggung penumpang lain. Posisi tubuhku tidak lurus benar. Sedikit bungkuk karena dorongan dari belakang ditambah berat tas yg kuransel ke depan.

Meski sedikit bungkuk, aku berusaha menengadahkan wajah ke atas. Agar sedikit lebih leluasa menghirup oksigen. Dibanding mencium bau dari pundak, kepala, atau punggung penumpang yang menempel. Kalau tengkuk mulai pegal, kutundukkan kepala barang sebentar. Lalu kutengadahkan lagi.

Tak ada yang aneh ketika perjalanan itu dimulai. Seperti biasa, kereta berhenti di stasiun transit Jatinegara. Di sini berhenti sekitar dua menit. Terus melaju melewati stasiun Cipinang, langsung berhenti di stasiun Klender. Biasanya di sini berhenti paling 30 detik. Tapi kali ini beda.

Kereta tak juga bergerak meski sudah menunggu lima menitan.

Dalam posisi itu, lima menit seperti lima jam. Orang-orang mulai gusar. Tubuh-tubuh yang tadi diam-diam saja mulai gerak sana gerak sini. Gerah. Tidak nyaman. Udara terasa semakin panas.

Pintu kereta sudah ditutup. Pengumuman berbunyi, “Maaf kereta Anda belum bisa diberangkatkan karena mengalami gangguan.” Dua kali. Kegusaran menjadi-jadi.

Untung tidak terlalu lama. Kereta mulai bergerak. Tiap orang mulai kembali ke posisi tenang.

Tapi ternyata hanya sebentar. Hanya melewati peron. Kereta mulai berhenti lagi. Total. Pengumuman maaf kembali terdengar.

Grasak-grusuk mulai lagi.

Detik demi detik berubah menjadi siksa. Menit-menit berubah menjadi neraka.

Pengumuman maaf berulang kali menyapa telinga. Bukannya meregangkan otot amarah. Pengumuman itu semakin menyulut emosi. Bagaimanapun kata maaf berulang kali sama sekali tidak membantu pada saat situasi kacau begitu. Lebih baik diam kalau tidak ada solusi.

Setiap pengumuman berbunyi dengan dimulai kata maaf, beragam umpatan terdengar.

Di salah satu sudut ada orang mengumpat. “Bangsat.” Di sudut lain “Kampret.” Kadang-kadang sahut-sahutan umpatan.

Serba salah. Siapa yang mau disalahkan?

Aku membayangkan kami seperti ikan dalam drum.

Drum yang diisi oleh ikan-ikan. Diisi sepenuh mungkin. Sepenuh-penuhnya. Sampai drum itu susah ditutup saking penuhnya. Drum itu berhasil ditutup. Dengan kekuatan super. Ikan-ikan di dalam tak punya ruang gerak.

Tiga puluh menitan kami menunggu.

Saat itu aku merasa ada pada titik terendah kemanusiaan.

Kereta mulai bergerak. Pengumuman terdengar lagi dengan bunyi berbeda.

“Sinyal kereta mengalami gangguan di stasiun Cakung. Waktu selesai perbaikan belum dapat dipastikan. Bagi Anda yang buru-buru, silakan berhenti di stasiun pemberhentian terdekat.”

Stasiun Cakung berada di posisi kedua setelah Buaran dan sebelum Bekasi.

Tiba di stasiun Buaran, semua orang keluar.

Ada yang duduk. Langsung di peron. Lemas. Ada yang langsung berjalan menuju pintu keluar. Ada yang buru-buru menuju toilet.

Aku berjalan menuju pagar peron. Menatap ke jalan yang ramai kendaraan. Kujemput kesadaran penuh sebelum keluar dan memesan transportasi online.

Besoknya media online memberitakan kemarin malam manusia membludak di stasiun Buaran akibat gangguan sinyal kereta rel listrik di stasiun Cakung.