Pingsan

“Mas, tolong bantu Mas, keluar aja,” begitu salah satu ucapan yang terdengar dalam kehebohan malam itu. Seorang perempuan pingsan. Sekilas kulihat wajahnya basah. Keringat.

Aku sudah tidak bisa lagi membedakan suasana malam-malam di kereta rel listrik Jabodetabek. Dari Manggarai ke Bekasi. Apakah malam itu tidak biasa atau biasa saja. Yang kurasakan, malam-malam di kereta itu sama. Sesak. Itu sudah ke 198 aku naik kereta.

Berdiri. Wajah menengadah. Menghadap langit-langit gerbong. Mencari ruang menghirup oksigen. Tas menempel di perut. Sedikit bungkuk. Pegal. Menjadi biasa.

Aku di gerbong empat. Di dekat pintu dekat sambungan gerbong lima. Di sini posisi favoritku. Aku bisa menyenderkan tubuh di dinding sambungan jika kosong. Tapi malam itu aku kurang beruntung. Dari Manggarai hingga Bekasi, dinding itu dikuasai seorang bapak-bapak.

Kereta terus melaju. Kini sudah melewati stasiun Cakung. Lewat satu stasiun lagi, Kranji, sudah akan sampai Bekasi. Aku sudah mahir memupuk kesabaran dan ketenangan.

Tapi tiba-tiba grasak-grusuk terjadi. Persis di depanku.

“Pingan, pingsan,” begitu bunyi suara-suara yang terdengar.

“Panggil satpam,” demikian seruan beberapa orang.

“Kasi ruang sedikit,” kata beberapa orang.

Aku belum bisa melihat kejadian sesungguhnya. Siapa yang pingsan. Ada empat orang yang melapis jarakku ke titik grasak-grusuk. Aku hanya bisa mendengar suara-suara itu sambil berdoa semoga secepatnya tiba di stasiun Kranji.

Tak ada ruang untuk orang yang pingsan itu ditelentangkan. Dari sisi-sisi orang di hadapanku, tampak seorang perempuan bersandar lemas di bahu seorang laki-laki. Ooh, rupanya Mbak itu.

Usianya mungkin 29 tahun. Aku melihat senderan kepalanya di bahu laki-laki itu. Dahi perempuan itu kadang terlihat. Basah oleh keringat. Tampak beberapa orang menunjukkan keprihatinan. Memegang tubuh perempuan itu agar tetap bersandar.

Kereta mulai melambat. Syukurlah. Sebentar lagi akan tiba di stasiun Kranji.

“Mas, tolong bantu Mas, keluar aja,” kata si laki-laki yang bahunya disenderi minta bantuan kepada mas-mas yang lain, yang dekat, ketika kereta berhenti. Menggotong tubuh perempuan itu keluar gerbong. Ada orang yang keluar gerbong, meminta bantuan satpam. Satpam datang.

Si Mbak ditelentangkan di peron. “Ada temannya gak ini?” Pak Satpam bertanya.

Tak ada yang mengaku.

Si Mas yang disenderi menitip si Mbak ke satpam. Lalu ia masuk lagi ke gerbong kereta.

Pintu kereta menutup. Melaju. Meninggalkan si Mbak telentang di peron, dijagai satpam dan beberapa orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s