Surat untuk Pak Rektor USU

Sebagai alumni, ada rasa malu yang muncul ketika hampir semua media di Indonesia memperbincangkan USU. Yang bikin malu adalah keramaian itu ditengarai keputusan rektor memberhentikan pengurus pers mahasiswa (persma) karena cerpen yang diterbitkan pers tersebut dinilai mengandung pornografi dan mendukung kelompok LGBT.

Cerpen yang dimaksud berjudul ‘Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya’. Saya sudah baca cerpennya, sama sekali tak membuat berahi saya naik. Ini, kalimat ini,“Kau dengar? Tidak akan ada laki-laki yang mau memasukkan barangnya ke tempatmu itu. Kau sungguh menjijikkan. Rahimmu akan tertutup. Percayalah sperma laki-laki manapun tidak tahan singgah terhadapmu,”. Mungkin ini dianggap porno. Tapi, hey, ini realitas sosial. Sebuah percakapan emosional. Tak perlu ditutup-tutupi. Apalagi diberahikan?

Yang lebih vulgar dari cerpen itu pun, seperti novel Eka Kurniawan dan Okky Madasari tak membuat saya berahi.

Pada Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas oleh Eka Kurniawan, halaman tujuh, Eka menulis, “Di malam pertama, ia berjanji akan meletakkan kemaluannya di celah dada isterinya.” Vulgar? Tapi siapa laki-laki di dunia yang tidak punya imajinasi tentang malam pertama? Atau siapa perempuan yang tidak punya imajinasi tentang malam pertama? Siapa pun berhak berimajinasi.

Atau ini, penggalan cerita dari 86 novel Okky Madasari halaman 179. “’Ah, I don’t believe you,’ Ananta said, running his hands over her arms, her back, and her breasts. He then slipped his hands beneath her shirt. Arimbi never wore a bra or panties when Ananta visited. And Ananta always wore pants with a hole in the pocket. This was another thing experience had taught them.” Ini kebetulan saya dapat yang versi bahasa inggris. Apakah saya berahi? Tidak. Karena ini konteksnya si isteri sedang di penjara. Justru saya merasa iba. Ini juga realitas sosial. Bagaimanapun si penulis mengembangkan imajinasi pada satu kejadian dalam novelnya, ia pasti menjaga kerealistisan alur cerita.   

Cerita yang mereka bangun itu kontekstual. Bukan sebuah undangan berahi pembaca, tapi menyampaikan keresahan  pada masalah sosial yang sebagian orang pura-pura tidak tahu atau sama sekali tidak tau. Ya kalau memang tidak tahu, saran saya pergi piknik. Kalaupun pura-pura tidak tahu karena tidak berani mengungkapkan, saran saya perbanyak piknik biar makin berani. Ini penting.

Itu dari sisi pornografinya.

Dari sisi tuduhan cerpen mengampanyekan dukungan pada LGBT, lagi-lagi ini soal kebebasan bereskpresi. Kebebasan mengkritik. Kebebasan bersuara. Saya tidak peduli apakah si penulis atau Suara USU atau bahkan USU mendukung LGBT, tapi di lingkungan kampus, tidak bisakah kita membicarakan ini? Di lingkungan kampus? Tidak bisakah kita mendiskusikan ini?

Di era globalisasi, Hak Asasi Manusia adalah mata uang universal. Jangan coba-coba bicara di forum internasional kalau tidak paham HAM, salah satunya memahami kelompok-kelompok minoritas, seperti LGBT. Kenapa? Karena mereka seringkali menjadi korban diskriminasi, dan ini sudah jadi isu global. Dalam kehidupan manusia yang setara, tak boleh ada diskriminasi.

Nah, di USU, mahasiswa seperti apa yang ingin dibentuk? Yang bicara di USU saja?  

Kampus adalah ruang akademis yang bebas. Bebas menghasilkan karya. Bebas mengolah pikiran. Bebas berekspresi. Bagi mahasiswa, kampus adalah tempat demokrasi yang sesungguhnya.

Kalau di kampus saja kreatifitas mahasiswa di kerangkeng, bagaimana mungkin mereka akan punya keberanian melahirkan ide-ide untuk membangun Indonesia?

Satu lagi, memilih pengurus baru persma Suara USU sesuai keinginan rektorat juga adalah bentuk kemunduran tingkat dewa. Mana sistem merit yang diajarkan dosen? Di mana letak legitimasi unit kegiatan mahasiswa yang diberikan? Bukankah ini sudah diatur?

Kalau pers mahasiswa hanya jadi corong kampus, yang memberitakan prestasi dan kerja yang baik-baik saja, kita mau kembali ke zaman baholak? Ketika media dimonopoli dengan hanya satu televisi agar yang ditonton masyarakat Indonesia hanya mau si penguasa? Ini bentuk keotoriteran. Tidak zaman lagi.

Daripada mengurusi hal-hal yang sesungguhnya tidak masalah, lebih baik fokus menaikkan peringkat USU yang semakin tahun semakin membuntut. Mau dibawa mundur berapa langkah lagi USU itu?

***

Nama saya Martin Rambe. Lulus dari USU tahun 2015 pada jurusan Ilmu Administrasi Negara, FISIP. Lalu bekerja di Tempo Institute sejak akhir 2015 hingga Maret 2019. Mulai April 2019 saya jadi Aparatur Sipil Negara di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai Analis Kebijakan. Saat ini sedang kuliah di Universitas Indonesia program Magister Ilmu Administrasi dan Kebijakan Publik, semester dua.

Siapa tahu Bapak mau mencari saya.

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s