Putri Pejabat dalam Cengkeraman Dai Nippon

Dari bupati sampai lurah meneruskan propaganda Sandenbu. Sebagai konsekuensinya, mereka sendiri harus memberi contoh menyerahkan anaknya demi keselamatan jabatan dan pangkat. Hal. 12.

Mungkin kamu pernah mendengar cerita anak remaja Indonesia yang dijadikan budak seks para balatentara Jepang pada masa penjajahan. Dari kakek atau nenek. Cerita dari mulut. Cerita yang kita tidak pernah tahu kebenarannya, namun percaya itu terjadi.

Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer yang ditulis Pramoedya Ananta Toer ini, bisa jadi sambungan cerita kakek nenek. Tentang Kartini asal Sukorejo, Semarang, yang dijemput dengan sepeda motor jok samping di depan rumah. Pamit kepada ayah ibu dengan cucuran air mata. Debu jalanan menjadi tabir pemisah anak remaja dengan keluarga. Selamanya. 

Tentang Sutinah dari Semarang yang ditipu–penuh harap akan disekolahkan di Jepang, ia dibawa ke pulau Buru menjadi pelacur guna melayani serdadu Jepang di kawasan Maluku–.

Memang mereka ditipu. Diberi kabar angin kalau mereka akan disekolahkan di Tokyo atau Singapura. Mereka tidak tahu, akan dijadikan pengganti wanita penghibur dari Jepang, Cina, dan Korea karena posisi Jepang semakin terdesak serangan Sekutu pada tahun 1943. Saat itu, akses laut dan darat antara Jepang dengan pendudukan Jepang di Asia Tenggara sulit ditembus.

Namanya kabar angin. Dibumbui dengan kata janji. Janji yang tidak pernah ditulis. Tapi itulah cara Nippon untuk menghilangkan jejak. Ketika Nippon menyerah tanpa syarat, semua gadis yang mereka cengkeram dilepas. Tanpa fasilitas. Tanpa kehormatan. Banyak kalangan menilai perbuatan balatentara Jepang itu sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar abad ke-20. Tapi sulit juga membuktikannya, tak ada dokumen yang menguatkan.

Janji indah–menyekolahkan remaja Indonesia agar kelak mampu mengisi kemerdekaan Indonesia– paling ampuh disampaikan lewat penguasa. Karena, siapa berani pada mereka?

Janji itu mengepakkan sayap. Dari Sandenbu atau Barisan Propaganda, si alat perang Jepang ke para bupati. Dari bupati ke camat. Camat pada lurah. Lurah pada perabot desa dan penduduk. Sekali lagi: dari mulut ke mulut. 

Begitu janji itu disebar ke penduduk sekitar: bupati, camat, lurah, dan perabot desa harus memberi contoh. Menyerahkan anak gadisnya terlebih dahulu. Baru diikuti penduduk sekitar.

Seperti Lurah Wiryoprayitno menyerahkan anaknya Raden Roro Suwarningsih atau Mantri Polisi Danuatmodjo mengikhlaskan putrinya Raden Roro Wuryanti.

Gadis-gadis itu diangkut dari kampung-kampung. Dari Prambanan, Kudus, Brebes, Purworejo, Krawang, dan lain-lain. Disatukan di tempat pengumpulan.

Di Surabaya tempat itu terletak di Jalan Peiping (sekarang Jalan Sidolawang Baru). Tempat pengumpulan itu rumah dipagari kawat berduri dan dijaga prajurit Nippon. Di Jakarta lebih mengguncangkan. Mereka ditempatkan di bekas rumah keluarga De Boer di Jalan Bungur dekat Stasiun Senen. Seluruh halaman rumah dipagari ayaman bambu, tinggi tak terlihat dari jalanan.

Ke tempat itulah serdadu-serdadu Jepang datang. Beramai-ramai. Datang sempoyongan setelah minum-minum.

Menilik kembali cerita lama ini menimbulkan pengalaman yang berbeda. Tentang sejarah Indonesia. Tentang cita-cita seorang buangan Pemerintah Orde Baru– Pramoedya Ananta Toer kepada pemerintah Indonesia, untuk menuntut Jepang atas cengkeramannya kepada para anak remaja Indonesia silam–yang tak tercapai. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s