Para Sprinter di Stasiun Kereta Api

Seorang bapak berlari kencang. Sekencang-kencangnya. Menerobos orang-orang tanpa menabrak. Ia jago betul memalingkan tubuhnya dan mengerem kakinya, lalu berbelok, agar tidak menabrak orang di depannya. Dalam sekejap, ia sudah ada di gerbong tiga kereta tujuan Bogor. Pintu otomatis menutup.

Orang yang menyaksikan itu pasti lega. Yes, berhasil! Ibarat sedang menonton pertunjukan.

Itu kali ke-30 aku menjadi penumpang kereta api commuter line Jabodetabek. Kali ini aku sedang berdiri santai di peron empat stasiun Manggarai. Menunggu kereta tujuan Bekasi, seperti biasa.

Di jalur enam sedang berhenti kereta tujuan Bogor. Menunggu pemberangkatan.

Penumpang kereta itu sudah penuh. Semua kursi sudah terisi. Tampak dari banyaknya orang berdiri. Bahkan ada penumpang yang menggantung persis di pintu gerbong. Ini pemandangan biasa sebelum pintu gerbong tertutup.

Di salah satu pintu gerbong enam ada yang sedang berjuang masuk. Dorong sana sini untuk dapat sedikit ruang. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Bagi yang tidak, ada yang menyerah menunggu kereta berikutnya. Ada pula yang terus berjuang dari pintu gerbong lain. Bergeser ke gerbong lima atau empat. Pokoknya mencari celah masuk.

Dari tempatku berdiri tampak ada kereta yang akan masuk di jalur dua. Kereta itu masih ngerem ketika masuk di jalur dua stasiun Manggarai. Geraknya melambat sebelum benar-benar berhenti.

Lalu terdengar suara petugas mengumumkan kalau kereta tujuan Bogor akan diberangkatkan.

Semua penumpang kereta tujuan Bogor di peron enam bersiap berangkat. Yang tadinya menggantung di pintu gerbong, langsung mendorong tubuhnya ke dalam.

Saat itulah tampak seorang bapak. Berlari kencang. Sekencang-kencangnya. Menerobos orang -orang tanpa menabrak. Ia jago betul memalingkan tubuhnya dan mengerem kakinya, lalu berbelok, agar tidak menabrak orang di depannya. Dalam sekejap, ia sudah ada di gerbong tiga kereta tujuan Bogor.

Pintu otomatis menutup. Aku yang menyaksikan lega. Untung selamat. Kereta berangkat.

Bapak itu adalah penumpang kereta yang masuk di jalur dua tadi.

Setelah beberapa bulan jadi pengguna commuter line, pemandangan seperti ini menjadi biasa. Anak muda, perempuan atau laki-laki, bahkan orang tua, berlari cepat seperti sedang lomba sprint atau lari cepat. Demi sedikit ruang di gerbong kereta. Agar tidak terlambat ke kantor atau agar segera memuaskan dahaga ketemu anak, istri, suami, ayah, dan atau ibu.

Mereka adalah para sprinter yang sesungguhnya.

Anak Muda Di Penghujung Pintu Gerbong

Anak muda itu memanfaatkan celah di antara orang-orang yang sibuk dengan diri sendiri. Bergerak pelan menuju seorang ibu paruh baya. Tampaknya ia berkata biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

Ini pemandangan yang sejuk.

Malam itu, kali ke-22 aku naik kereta, dari Manggarai ke Bekasi. Aku menyempil di sudut gerbong tiga. Bersender di dinding sambungan gerbong tiga dan empat.

Dari sanalah aku menyaksikan seorang anak muda. Berdiri di dekat salah satu pintu gerbong. Pintu ujung gerbong tiga. Tak begitu jauh dari tempat aku berdiri. Tangan kanannya memegang gantungan yang memang disediakan untuk orang yang berdiri.

Perawakannya setinggi rata-rata orang Indonesia. Badan proporsional. Kutaksir usianya 27 tahun. Ia mengenakan jaket hitam. Tas diransel ke depan.

Pakaiannya rapi. Semiformal. Kemeja biru muda polos. Dan celana jeans. Aku tidak bisa melihat alas kakinya. Jarak kami dipenuhi orang. Tapi kutebak sepatu jenis boots. Saat dia mengangkat tas si Ibu untuk ditaruh ke bagasi, tampak dia mengenakan jam tangan. Model alexander christie tali kulit.

Awalnya semua penumpang kereta sudah sibuk dengan diri masing-masing ketika kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun Manggarai. Aku sendiri sudah dalam posisi nyaman.

Lalu kereta berhenti di stasiun Klender. Stasiun kelas III/kecil pemberhentian kedua setelah stasiun Jatinegara. Ada penumpang yang turun. Ada penumpang yang naik.

Seorang Ibu paruh baya naik. Dia berdiri di depan pintu. Ia membawa dua tas jinjing dengan ukuran berbeda. Yang kecil dijinjing dan yang sedang ditaruh di lantai.

Kereta mulai bergerak melanjutkan perjalanan, si Ibu mengatur posisinya. Orang-orang kembali sibuk dengan diri masing-masing.

Setelah merasa posisinya nyaman, si Ibu tampak menunduk. Ia mengambil tas yang tadi ditaruh di lantai. Ingin ditaruh di bagasi. Karena tas atau barang apa pun tak boleh ditaruh di lantai. Akan mengganggu orang yang berdiri.

Tapi tas itu tampaknya berat. Dan dengan begitu ramainya orang, ia kesulitan mengangkatnya.

Seorang anak muda kemudian bergerak. Memanfaatkan celah di antara orang-orang yang berdiri. Ia dekati si Ibu, seperti mengungkapkan biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

Si Ibu tampak semringah. Dari gerak bibirnya, ia mengucap terima kasih. Dari raut mukanya, tampak ketulusan.

Di gerbong yang begitu sesak, kutemukan kesejukan tak terkira. Tak sadar bibirku tersenyum. Sejenak dahagaku hilang.

Ibu Paruh Baya di Stasiun Manggarai 

Dari jarak aku berdiri. Aku melihat seorang ibu. Paruh baya. Tengah berjuang masuk ke dalam. Didorong orang yang hendak keluar dari gerbong. Didorong lagi oleh orang yang hendak masuk. ***

Kembali kudatangi stasiun Palmerah. Untuk ke-31 kali. Sore itu tampak lengang. Seperti biasa. Orang lalu lalang hanya satu, dua, tiga, empat, lima. Bagi anak sekolah dasar kelas satu, tak perlu tambahan potongan lidi untuk menghitungnya.

Hari ini aku meninggalkan kantor di jam biasa. 18.05.

Kurasa aku menunggu 15 menit. Kereta tujuan Tanah Abang datang. Tak ramai penumpang. Aku masuk. Duduk di dekat pintu. Bersandar santai.

Aku di gerbong lima. Hanya ada tiga orang lain yang duduk di kursi memanjang berwarna hijau tua yang kududuki. Satu duduk pas di samping pintu satu lagi persis seperti posisi dudukku. Dua orang duduk memisahkan kami. Kursi yang mampu menampung 6-8 orang ini cukup membuat jarak kami begitu lega.

Di seberang kami, kursi yang sama panjangnya, diduduki dua orang. Masing-masing duduk di samping pintu. Berjauhan. Persis seperti aku dan salah satu orang yang duduk sebaris.

Masing-masing dengan kesibukannya. Aku mengulang lagu Calum Scott lagi. If Our Love Is Wrong.

Belum sampai dua kali pengulangan, komuter line tiba di stasiun Tanah Abang. Dari dalam kereta tampak orang berlapis-lapis bersiap di peron. Seperti singa yang siap menerkam.

Kami, penumpang kereta, sudah bersiap turun saat kereta mulai melambat. Begitu benar-benar berhenti, aku langsung keluar. Tanpa hitungan detik. Lalu berjuang menghindar dari kerumuman yang sedang saling dorong masuk ke dalam perut kereta.

Butuh waktu 7-10 menit sejak aku turun sampai ke tangga stasiun Tanah Abang. Sampai di atas, sebelum turun tangga lagi untuk pindah peron, aku berhenti sejenak. Mengambil nafas. Merapikan letak tas yang menempel di perut.

Naik kendaraan umum seperti ini rawan pencurian. Tas ransel harus diransel ke depan, bukan ke belakang.   

Aku harus melanjutkan perjalanan. Aku turun tangga untuk pindah peron. Peron dua, tujuanku pun telah disesaki orang. Kucari celah di antara orang-orang itu. Terus bergerak hingga mendekati pinggir peron. Agar nantinya mudah masuk ke gerbong kereta.

Tiga puluh menit aku berdiri. Kereta tujuan Bogor datang.

Kereta itu semakin mendekat. Kulihat penuh dengan orang. Wajah-wajah menempel di pintu gerbong kereta. Tangan-tangan menahan tubuh memenuhi sisi-sisi dinding kereta. Kuurungkan niat untuk naik.

Tapi, ketika kereta benar-benar berhenti, ternyata banyak yang turun. Sepertinya aku bisa berjuang mendapatkan sedikit ruang. Aku berlomba dengan penumpang lain. Beruntung tubuhku tak besar. Mudah saja aku masuk mengalahkan yang lain.

Aku sudah di dalam kereta. Wajahku dikelilingi ketiak, wajah orang lain, punggung orang lain, dan leher orang lain. Lengket. Tak bisa bernafas lega. Muncul penyesalan. Mestinya tadi aku tunggu saja. Aku menengadahkan wajah ke atas.

Tiba di stasiun Manggarai. Aku turun lagi untuk transit. Aku bertaubat. Tidak akan masuk kalau seramai tadi. Kusibukkan diri dengan telepon genggam dan musiknya.

Selama 20 menit menunggu. Mulut kereta tampak mendekat. Tujuan Bekasi. Ini dia keretanya. Kereta itu semakin mendekat. Pemandangan yang sama. Wajah menempel di pintu gerbong. Sisi kereta dipenuhi tangan-tangan yang menahan tubuh agar tak jatuh. Kuurungkan niat untuk naik.

Aku mundur dari gerombolan orang yang sedang mengumpulkan nyawa dan tenaga untuk masuk. Aku mengalah. Aku menjauh.

Kereta itu berhenti.

Seperti singa lapar. Gerombolan orang di tiap pintu gerbong siap masuk. Peraturannya, orang yang keluar gerbong harus didahulukan. Tapi ini singa lapar. Tak ada kesabaran. Kulihat. Gerombolan orang itu mendesak masuk. Bersamaan. Orang yang di dalam kaget. Tak mau kalah mereka mendorong keluar.

Ada yang berhasil keluar. Ada yang berhasil masuk. Ada yang terseok di dalam kereta. Ada pula yang terombang-ambing di luar kereta.

Dari jarak aku berdiri. Aku melihat seorang ibu. Paruh baya. Tengah berjuang masuk ke dalam. Didorong orang yang hendak keluar dari gerbong. Didorong lagi oleh orang yang hendak masuk.

Sekejap kulihat ibu itu ada di bibir pintu. Sekejap lagi sudah jauh dari bibir pintu. Sekejap kemudian sudah ada di pinggir bibir pintu menjamah tepi bibir pintu. Sekejap lagi sudah menjauh. Cukup jauh untuk dikatakan bisa masuk ke gerbong. Sekejap kemudian dia sudah ada di bibir pintu. Kali ini tangannya erat memegang gagang pintu. Tubuhnya menunduk. Desak-desakan tak henti. Sekajap lagi. Ibu itu tak lagi nampak.

Peluit berbunyi. Kereta bergerak. Meninggalkan orang-orang yang tak berhasil masuk. Meninggalkan orang yang mengalah. Perut kereta kekenyangan.

Kekurangkerjaan Polisi dan Kekurangajaran Media Pada Kasus Prostitusi

Seperti tak ada kerjaan lain, polisi menggerebek salah satu hotel di Surabaya, Sabtu, 5 Januari lalu. Dugaanku, kamar tujuan gerebek mereka sudah jelas. Sehingga kerjaan mereka sesungguhnya hanya datang ke hotel, menunjukkan identitas, sedikit celingak-celinguk pura-pura memeriksa ini itu. Lalu menuju salah satu kamar, berisi dua orang dewasa yang sedang bertransaksi.

Dua orang dewasa. Yang sudah merdeka menentukan jalan hidupnya. Yang sudah mengerti konsekuensi atas pilihannya.

Dua orang dewasa ini lalu ditahan atas tuduhan prostitusi. Iya, prostitusi, salah satu profesi tertua di dunia ini.

Tak lupa, Pak Polisi datang dengan memboyong media. Bak sebuah prestasi tingkat alam raya, mereka kumandangkan keberhasilan ini. Pekerjaan berhasil menggerebek dua orang dewasa di hotel.

Media. Sama saja. Seperti tak ada berita yang lebih penting. Iya, mungkin gak ada sih. 😦

Tak butuh waktu lama, nama salah seorang dewasa yang ditangkap langsung menjadi trending di pencarian google dan media sosial. Judulnya aduhai. Mulai dari gaya a hingga z, wartawan mempermainkan hormon libido netizen. Demi clickbait.

Pertama, tak ada undang-undang yang bisa menjerat dua orang dewasa yang sedang bertransaksi ini. Dalam kitab undang-undang hukum pidana, hanya mucikari yang bisa dijerat hukum.

Terus, membahas profesi prostitusi memang tak ada habisnya. Jika profesi ini bisa dihilangkan dari muka bumi, tak perlu polisi atau DPR sekarang, nenek moyang kita sudah pasti membumihanguskannya pada zamannya. Jadi tidak usah sok pahlawan.

Yang mesti dilakukan itu adalah mengaturnya.

Di Swedia, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjerat si pengguna jasa pekerja seks. Tindakan pengguna itu ilegal, termasuk tindakan yang mengeksploitasi perempuan.

Menurut data mereka, sejak undang-undang itu diterapkan, tahun 1999, angka prostitusi di negara itu turun drastis. Dari 3.000-an orang ke 600 orang. Swedia kemudian digadang sebagai negara yang berhasil mengatur pekerja seks komersial. Meski tetap saja ada yang memperdebatkan keberhasilan itu.

Yang menarik adalah, para peneliti Swedia melakukan penelitian selama 16 tahun untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan seperti itu. Dan di dalam undang-undangnya, mereka mengatur tentang bantuan kepada PSK yang pensiun, dan dana sosialisasi serta pendidikan.

Di Jerman, prostitusi dilegalkan sejak tahun 1927. Para pekerja itu dianggap sama dengan pekerja lain. Memiliki asuransi kesehatan, tunjangan sosial, uang pensiunan, dan wajib membayar pajak.

Nah, Indonesia juga mesti mengadopsinya. Bukan peraturannya, tapi keputusan untuk mengatur profesi yang satu ini. Karena tiap negara pasti berbeda cara pengaturannya. Dimulai dengan melakukan penelitian yang serius untuk mengetahui karakter pekerja seks, pengguna jasanya, dan si mucikari di Indonesia. Lalu membuat regulasi yang dianggap paling tepat.

Jadi, tindakan polisi menggerebek dua orang dewasa itu ya cuma nunjukin mereka kurang kerjaan. Kecuali jika yang ada di hotel itu anak di bawah umur. Yang belum dewasa. Yang belum bisa menentukan pilihan hidupnya. Yang dieksploitasi orang lain. Atau yang perlu dibimbing. Baru ini pekerjaan polisi.

Cara media memblow up dua orang yang digerebek itu pun kurang ajar. Apalagi blow up terhadap salah satu orang dewasanya. Tanpa memikirkan orang-orang sekitarnya, wartawan sesukanya membuat judul-judul yang menjijikkan, secara beruntun.

Penggerebekan dua orang dewasa di hotel itu sungguh kekurangkerjaan polisi. Dan pemberitaan kasus itu sungguh kekurangajaran media.

Tapi tak semua polisi kurang kerjaan. Hanya beberapa. Dan tak semua media kurang ajar. Hanya beberapa. Juga wartawan. Hanya beberapa.

Film Keluarga Cemara Mungkin Ingin Menceritakan Bagaimana Orang Kaya Membayangkan Hidup Orang Miskin

Spoiler berat. Jangan baca! 

Film keluarga cemara sukses mengobral cerita sedih keluarga yang jatuh miskin. Melupakan detail-detail yang bermakna. Itu kesanku usai duduk selama kurang lebih dua jam di dalam bioskop.

Wanita di sampingku kutahu beberapa kali meneteskan air mata. Wong dia senderan di bahuku. Heheu.

Dialog dan adegan harunya memang dapat. Dan buanyak. Salah satunya nih, adegan ketika si Abah bilang, “Kalian semua tanggung jawab Abah!” Lalu Euis dengan air mata menimpali, “Kalau kami semua tanggung jawab Abah, Abah tanggung jawab siapa?” Terus Emak, Euis, dan Abah berpelukan. Adegan pelukan ini pun lama. Bikin iman runtuh. Makanya banyak yang mewek. 😀

Tapi yang hilang menurutku adalah makna di balik semuanya. Aku tak merasa adegan-adegan itu sebagai satu kesatuan. Seperti terpisah. Sehingga di akhir film, bingung mau memetik apa pesannya.

Kalau mau disebut pesannya adalah keluarga sebagai sumber kebahagiaan, bukan harta, atau menghargai kerja keras ayah, atau teman yang saling mendukung. Ini terlalu umum, kan. Makan kita sehari-hari ini. Tak perlu difilmkan. Kita kan ingin mendapat sesuatu yang lebih.

Coba nih aku sebutin beberapa hal yang mengganjal yang kuingat.

Lebam di wajah Kang Fajar sama sekali kelihatan bohongan. Ini seperti menunjukkan film ini tidak serius digarap. Maaf lo ya. Maksudku itu detail yang penting. Meski hanya tampil beberapa detik, ya tetap harus all out.

Kedua, ketika Abah jatuh saat bekerja bangunan dan Emak memberi tahu dia hamil. Lalu tiba-tiba banget hamilnya udah kayak 6 bulan. Yang tidak masuk akalnya adalah, kaki si Abah masih di perban seperti saat pertama kali diperban usai jatuh sementara hamil si Emak sudah mencapai bulanan.

Emang kaki si Abah segitu parahnya sehingga berbulan-bulan belum sembuh? Kalau memang iya separah itu, kenapa setelah jatuh tidak dilarikan ke rumah sakit, kok hanya dikompres di rumah. Maksudku tidak ada adegan atau dialog yang menunjukkan itu sangat parah. Ini juga detail yang terlupakan.

Lalu, sejak perut si Emak tiba-tiba kayak udah enam bulan, jarak ke kelahiran begitu lama. Sehingga tidak proporsional pembagian waktunya. Tidak masuk akal. Kayak lo tiba-tiba sedang makan tapi gak selesai-selesai berjam-jam.

Ketiga, si Teteh Euis anak yang sangat dewasa. Orang kota lalu tinggal di desa. Euis tidak mudah menjalani adaptasi ini. Kelihatan betul penggambarannya. Tapi akhirnya ia mau berjualan opak. Untuk ini, aku salut.

Yang kukritik adalah sikap marah-marah Abah pada Euis, seperti menolak Euis ketemu teman-temannya. Sebagai kepala keluarga yang sudah pernah tinggal di kota, punya pengalaman, dan mungkin juga dia berpendidikan karena sebelumnya ia punya perusahaan di kota, mustahil rasanya punya sikap seperti itu.

Sehingga sikap marah-marahnya pada Euis itu tidak berdasar. Kecuali ia dikisahkan sebagai ayah yang akhirnya mengalami gangguan mental setelah bangkrut. Ini detail yang juga dilupakan sehingga karakter Abah menjadi kurang kuat.

Terus tiba-tiba si Abah beli motor. Ini juga ujug-ujug gitu. Nggak ada adegan atau dialog yang menunjukkan kalau dia masih punya uang untuk membeli motor. Apakah itu belinya kredit atau tunai, tetap aja berasa ujug-ujug.

Selanjutnya soal adegan gerobak dorong saat Emak mau melahirkan. Aku lupa namanya, panggil aja si Mas, yang membantu mendorong. Itu adegan lucu tak berkelas.

Tak mungkinlah begitu. Apalagi di desa. Rasanya tidak ada orang desa seperti itu. Masa lagi mendorong gerobak berisi ibu hamil yang mau melahirkan malah jatuh kelelahan. Manja sekali. Jatuh kelelahannya itu pun, ya kayak main-main.

Karena melahirkan itu kan sesuatu yang serius, ya. Kecuali ini film komedi, ya sah-sah saja. Detail yang diremehkan kalau ini.

Lalu pemilihan Bogor sebagai tempat pindah setelah bangkrut. Kok rasanya kurang jauh ya dari Jakarta. Okelah itu rumah warisan. Tapi kurang greget ketika jatuh miskin lalu pindahnya ke Bogor yang jaraknya hanya seupil dari Jakarta. Coba pindahnya lebih jauhlah dari Jakarta, misalnya ke Purbalingga atau Medan sekalian. Hehe.

Kalau penulis novel Indonesia Leila S. Chudori pernah bilang, “Semua tindakan tokoh, seperti kalimat yang diucapkan, keputusan yang diambil, pakaian yang dikenakan, harus mendukung karakter si tokoh dan memiliki relevansi dengan bangunan keseluruhan cerita.” Ini yang kurang di film ini.

Selama hampir dua jam di bioskop, aku banyak tertawa dan senyum. Gemes melihat aksi Ara. Film ini juga sarat humor tingkat tinggi. Dan akting para pemeran tak usah diragukanlah. Terus adem ayem banget dong mendengar suara Bunga Citra Lestari, pengisi soundtracknya. 🙂

Jadi, ya begitulah. Film ini sukses mengobral kesedihan hidup keluarga miskin.

Oh ya, mungkin karena aku lahir di keluarga miskin, jadinya melihat film ini dari sudut pandang orang yang pernah hidup susah. Film ini mungkin ingin menceritakan bagaimana orang kaya membayangkan hidup orang miskin.

Si Bapak Lalu Hilang di Antara Mobil Tersendat

Dengan lengan yang dibungkus kain kaos lengan panjang, ia menyeka wajahnya. Ia menunduk sedikit. Ia lap lagi mukanya. Tiga kali ia mengusap durjanya. Sampai sudut-sudut rupanya kering oleh butir-butir keringat. Rautnya tampak segar kemudian.

Lengan kaosnya yang berwarna abu-abu tampak gelap oleh usapan keringat. Kaos itu polos. Hanya ada tulisan NYC LIFE yang begitu halus di bagian dada sebelah kirinya. Warna lengan kaos yang dilap keringat itu tampak begitu kontras.

Lalu senyumnya menyumbar kepada penjual bakso di samping kirinya. Ia tampak mengajak penjual bakso mengobrol. Lalu terlihat menunduk. Ia sedang berusaha mengangkat tas selempang yang ia taruh tadi di samping gerobak bakso.

Sebenarnya tidak tepat disebut tas. Karena hanya kumpulan beberapa plastik yang dilapis-lapis. Plastik itu dua warna. Merah dan putih. Jika belanja di supermarket, Anda akan mendapatkan plastik yang agak tebal kalau belanjaan cukup banyak. Begitulah model plastiknya.

Tali tas itu pun tampak alih fungsi dari tali ikat pinggang. Ikatan sambungan tali ikat pinggang itu dengan plastik begitu tebal.

Urat di dahi dan pelipis matanya tampak saat tas plastik itu mulai terangkat. Dia dan si penjual bakso masih mengobrol sambil merapikan letak tas plastiknya pas di samping kanan. Talinya melingkar dari pundak kiri menyilangi dada turun ke pinggang kanan. Obrolan mereka membuat parasnya terlihat semringah. Gigi putihnya memancar.

Setelah tas plastiknya kukuh menempel di pinggul kanan, ia menunduk lagi. Mengangkat kardus. Kemudian ia seperti mengucap kata izin lanjut berjualan kepada si penjual bakso.

Tangan kanannya memegang dua botol minuman. Diangkat setinggi pundak. Tangan kirinya mengangkat kardus berisi cemilan. Dimiringkan ke depan, sehingga tampak isinya. Ia mendekati mobil-mobil yang sedang menunggu jalan dibuka menuju puncak, Bogor. Setiap kali ia mendekati kaca pintu mobil, ia condongkan tubuhnya.

Bapak itu lalu hilang di antara mobil-mobil yang tersendat. Kami lanjut menimbun kesabaran menunggu jalan arah puncak mendapat giliran untuk dibuka.