Kecopetan di Kereta Adalah Bentuk Kehilangan Paling Ikhlas

Seorang bapak-bapak tampak gusar. Kedua tangannya gesit meraba saku-saku celana dan saku kemeja yang menempel di dada kirinya. Telepon genggamnya raib. Kejadian itu hanya barang sedetik setelah pintu otomatis menutup. “Ah, yasudahlah,” katanya akhirnya.

Aku sedang berselancar di instagram ketika kereta berhenti di stasiun Sudirman. Stasiun pertama setelah Manggarai. Kereta akan mengakhiri perjalanan di stasiun Tanah Abang setelah melewati stasiun Karet. Waktu menjelang siang di kali ke 17 aku naik kereta hendak ke kantor.

Di gerbong aku berdiri, hampir tujuh puluh persen penumpang turun. Aku sendiri turun dulu untuk memudahkan penumpang lain yang mau keluar. Setelah semua turun, baru aku naik lagi. Plong. Pintu otomatis menutup. Kereta beranjak.

Daerah Sudirman memang salah satu pusat bisnis di DKI Jakarta.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak didekatku tampak grasak grusuk. Kedua tangannya lincah meraba saku celana dan kemejanya. Beberapa kali ia meraba saku kemeja yang menempel di dada kirinya. Beberapa kali juga ia meraba saku samping dan belakang celananya.

Karena begitu banyaknya penumpang tadi dari stasiun Manggarai, aku tidak tahu persis si Bapak ini penumpang baru naik di stasiun Sudirman atau tidak. Tapi aku menduga ia bukan penumpang baru.

“Kenapa Pak?” aku bertanya.

“HP-ku, kayaknya ada yang ambil,” katanya.

Ia cek lagi saku-saku di celana dan kemejanya. Benar, raib.

Penumpang-penumpang lain menunjukkan empati. Ada yang mencoba menduga-duga. Mungkin HP-nya tadi diambil pas penumpang banyak yang turun. Kayaknya dari tadi Bapak sudah diintai. Tadi emang taruh di mana Pak? Waduh, kalau hilang di kereta mah gak bakal ketemu. Kemarin malam ada juga yang kecopetan di stasiun Tanah Abang. Dan lain-lain.

Si Bapak sempat tampak lemas. Tapi, “Ah sudahlah,” katanya akhirnya. Mukanya berubah biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Kecopetan di kereta memang bentuk kehilangan paling ikhlas.

Mau berkata apa lagi?

Dua kata yang diucapkan si Bapak itu memang ampuh menenangkan suasana. Tak ada lagi duga-duga yang tidak membantu. Semua kembali pada posisi nyaman masing-masing.

Pada dasarnya mental copet memang masih digemari sebagian orang. Apalagi di kereta sistem keamanannya belum memadai, misalnya belum ada CCTV. Sehingga ketika terjadi copet, tidak ada usaha lain yang perlu dilakukan selain mengikhlaskan. Karena berusaha menemukan pencopet hanya akan membuat kita tampak bodoh.

Kursi di Kereta, untuk Siapa?

Si Kakek, kutaksir usianya 60 tahun, memberi kursinya kepada si Mbak, kutaksir usianya 32 tahun. Si Mbak, sambil mengucapkan terima kasih, duduk. Si Kakek, sambil memegang kantongan plastik di tangan kiri, berdiri dan meraih gantungan tangan.

Konstruksi yang dibangun bertahun-tahun lamanya, tentang laki-laki dan perempuan memang telah begitu mengakar. Laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Oleh karena itu, pantang perempuan berdiri di dalam kereta atau transportasi lainnya.

Itu adalah kali ke 12 aku naik kereta. Malam itu kereta sudah mulai sepi. Dari stasiun Manggarai berangkat pukul 21.25 menuju Bekasi. Meski sepi, aku tetap berdiri. Di gerbong enam. Kursi-kursi terisi penuh. Yang berdiri satu dua tiga orang. Itu malam Rabu.

Kalau kondisi gerbong seperti ini, biasanya aku larut di internet. Menonton youtube ajang pencarian bakat bernyanyi yang diunggah akun youtube stasiun televisi. Pindah ke instagram. Scroll up scroll down. Searching video-video lucu. Aku tidak begitu peduli pada pemberhentian di stasiun-stasiun kecil.

Namun, ketika kereta baru saja bergerak meninggalkan stasiun Klender Baru, perhatianku tertuju pada satu baris kursi di sebelah kiriku.

Ada penumpang yang baru masuk. Seorang perempuan, yang kutaksir berusia 32 tahun. Tampaknya ia baru pulang dari kantor. Pakaian yang dikenakan rapi. Kemeja bunga-bunga dominan warna biru muda dengan celana bahan hitam. Ia meransel tas ke perut. Sepatunya pansus hitam.

Ia berjalan mendekati kursi yang diduduki lima perempuan dan tiga laki-laki. Tujuh dari delapan orang itu menutup mata. Tidur atau pura-pura tidur. Hanya satu orang, yang dari penampakannya lebih sopan dipanggil Kakek, terjaga. Rambutnya dominan putih. Jaketnya tebal. Wajahnya tampak penuh garis-garis tebal dan halus.

Perempuan itu mendekati si Kakek.

Lalu si Kakek berdiri, mempersilakan si perempuan yang baru mendekat untuk duduk. Si perempuan itu mengucap terima kasih, lalu duduk. Si Kakek berdiri sambil meraih gantungan tangan.

Penampakan ini mungkin biasa saja. Apalagi di Indonesia yang kental budaya patriarkinya. Laki-laki dikonstruksikan sebagai sosok yang tangguh. Harus mengalah pada perempuan.

Jika si Kakek memberi kursinya karena takut dianggap tidak tangguh, betapa malang dia. Jika si perempuan menerima tawaran kursi itu karena merasa lebih berhak sesuai dengan jenis kelaminnya, betapa kurang belajar dia.

Bukankah sebaiknya memilih duduk atau tidak di dalam kereta, hal yang mesti jadi pertimbangan adalah ketahanan tubuh? Bukan jenis kelamin. Ada laki-laki yang lebih kuat dari perempuan. Ada juga perempuan yang lebih kuat dari laki-laki.

Jenis kelamin bukanlah patokan ketahanan tubuh. Jenis kelamin adalah bagian tubuh yang membedakan laki-laki dan perempuan secara biologis.

Tentu memberi kursi kepada Ibu hamil adalah keharusan. Tapi bukan karena ia perempuan, tapi karena ketahanan tubuhnya sedang lemah karena membawa jabang bayi di perutnya dan penting untuk keselamatannya.

Pengalaman seperti malam itu berkali-kali aku saksikan selama menjadi anak kereta. Kita masih perlu banyak berefleksi.

Pelecehan

“Heh, tanganmu!” Seorang perempuan berteriak. Demikianlah pelecehan itu terjadi.

Di kali ke 56 aku naik kereta rel listrik atau krl, stigma orang-orang pada kereta itu kusaksikan sendiri. Di krl sering terjadi pelecehan seksual. Begitu kata mereka.

Sebenarnya pelecehan seksual tidak mengenal tempat. Bisa terjadi di mana saja. Hanya karena kondisi krl yang selalu penuh penumpang, terutama saat jam berangkat dan pulang kantor, transportasi besi berjalan itu menjadi tempat yang rentan pelecehan terjadi.

Kereta yang mengangkut kami dari stasiun Manggarai ke Bekasi malam itu berjalan seperti biasanya saja. Di malam Kamis, jumlah penumpang ramai.

Waktu itu sudah mendekati pukul sembilan malam. Jumlah kami sudah mulai sedikit berjarak. Aku tak perlu menengadahkan wajah ke atas. Ada ruang-ruang di antara kepala, pundak, leher, dan punggung yang bisa membuatku bernafas sedikit lebih leluasa.

Kereta baru saja meninggalkan stasiun transit Jatinegara. Tak sampai sepuluh menit, kereta sudah mulai lagi melambat. Tanda kereta akan berhenti lagi. Kali ini di stasiun Klender.

Kereta semakin melambat. Semakin pelan. Pengumuman pun sudah berganti dari kereta Anda akan tiba di stasiun Klender menjadi, “Hati-hati pintu sebelah kanan akan segera dibuka.”

Tiba-tiba seorang perempuan berteriak. “Heh, tanganmu!”

Suara itu membuat penumpang di gerbong empat bangun. Bangun dari tidur, bangun dari ketidaksadaran, bangun dari lamunan. Termasuk aku. Mencari sumber suara.

Kami menatap ke arah perempuan yang berteriak. Di depannya seorang laki-laki menunduk salah tingkah.

Jarakku tidak begitu jauh. Hanya dilapis tiga empat orang. Namun aku tak bisa melihat penuh wajah laki-laki itu.

Dia mengenakan jaket abu-abu. Tidak pakai tas. Rambutnya hitam pendek sedikit beruban. Mungkin usianya 43 tahun.

Seorang ibu-ibu melibatkan diri. “Kenapa tadi Mbak?” dia tanya.

“Ini, aku sudah awasi sejak tadi gerak-geriknya, pegang-pegang saya, kamu pikir saya apa?” katanya lantang menghadap si laki-laki. Ia melotot. Si laki-laki menunduk.

Kereta sudah berhenti. Ada yang masuk dan keluar. Kami, yang mengetahui kejadian itu masih melotot kepada si laki-laki itu. Laki-laki yang terus menunduk.

Meski ia menunduk, ia tahu berapa pasang mata yang menatapnya. Sekejap, ia melompat dari gerbong. Hanya barang sedetik, pintu otomatis kereta menutup.

Ia tampak berjalan jauh, jauh. Menjauhi kereta yang turut menjauh.

Demikianlah pelecehan seksual itu terjadi.

Pengalaman serupa kemudian kusaksikan kurang lebih tiga kali selama menjadi anak kereta.

Titik Terendah Kemanusiaan

Kurasa titik terendah kemanusiaanku berada pada saat menumpangi kereta rel listrik. Saat kali ke 41 aku naik commuterline Jabodetabek.

Kereta yang kutumpangi dari stasiun Manggarai ke Bekasi berangkat pukul 20.35. Seperti biasa, aku menempel di antara punggung-punggung penumpang lain. Posisi tubuhku tidak lurus benar. Sedikit bungkuk karena dorongan dari belakang ditambah berat tas yg kuransel ke depan.

Meski sedikit bungkuk, aku berusaha menengadahkan wajah ke atas. Agar sedikit lebih leluasa menghirup oksigen. Dibanding mencium bau dari pundak, kepala, atau punggung penumpang yang menempel. Kalau tengkuk mulai pegal, kutundukkan kepala barang sebentar. Lalu kutengadahkan lagi.

Tak ada yang aneh ketika perjalanan itu dimulai. Seperti biasa, kereta berhenti di stasiun transit Jatinegara. Di sini berhenti sekitar dua menit. Terus melaju melewati stasiun Cipinang, langsung berhenti di stasiun Klender. Biasanya di sini berhenti paling 30 detik. Tapi kali ini beda.

Kereta tak juga bergerak meski sudah menunggu lima menitan.

Dalam posisi itu, lima menit seperti lima jam. Orang-orang mulai gusar. Tubuh-tubuh yang tadi diam-diam saja mulai gerak sana gerak sini. Gerah. Tidak nyaman. Udara terasa semakin panas.

Pintu kereta sudah ditutup. Pengumuman berbunyi, “Maaf kereta Anda belum bisa diberangkatkan karena mengalami gangguan.” Dua kali. Kegusaran menjadi-jadi.

Untung tidak terlalu lama. Kereta mulai bergerak. Tiap orang mulai kembali ke posisi tenang.

Tapi ternyata hanya sebentar. Hanya melewati peron. Kereta mulai berhenti lagi. Total. Pengumuman maaf kembali terdengar.

Grasak-grusuk mulai lagi.

Detik demi detik berubah menjadi siksa. Menit-menit berubah menjadi neraka.

Pengumuman maaf berulang kali menyapa telinga. Bukannya meregangkan otot amarah. Pengumuman itu semakin menyulut emosi. Bagaimanapun kata maaf berulang kali sama sekali tidak membantu pada saat situasi kacau begitu. Lebih baik diam kalau tidak ada solusi.

Setiap pengumuman berbunyi dengan dimulai kata maaf, beragam umpatan terdengar.

Di salah satu sudut ada orang mengumpat. “Bangsat.” Di sudut lain “Kampret.” Kadang-kadang sahut-sahutan umpatan.

Serba salah. Siapa yang mau disalahkan?

Aku membayangkan kami seperti ikan dalam drum.

Drum yang diisi oleh ikan-ikan. Diisi sepenuh mungkin. Sepenuh-penuhnya. Sampai drum itu susah ditutup saking penuhnya. Drum itu berhasil ditutup. Dengan kekuatan super. Ikan-ikan di dalam tak punya ruang gerak.

Tiga puluh menitan kami menunggu.

Saat itu aku merasa ada pada titik terendah kemanusiaan.

Kereta mulai bergerak. Pengumuman terdengar lagi dengan bunyi berbeda.

“Sinyal kereta mengalami gangguan di stasiun Cakung. Waktu selesai perbaikan belum dapat dipastikan. Bagi Anda yang buru-buru, silakan berhenti di stasiun pemberhentian terdekat.”

Stasiun Cakung berada di posisi kedua setelah Buaran dan sebelum Bekasi.

Tiba di stasiun Buaran, semua orang keluar.

Ada yang duduk. Langsung di peron. Lemas. Ada yang langsung berjalan menuju pintu keluar. Ada yang buru-buru menuju toilet.

Aku berjalan menuju pagar peron. Menatap ke jalan yang ramai kendaraan. Kujemput kesadaran penuh sebelum keluar dan memesan transportasi online.

Besoknya media online memberitakan kemarin malam manusia membludak di stasiun Buaran akibat gangguan sinyal kereta rel listrik di stasiun Cakung.

Tidur Berdiri

Aku dan beberapa orang menatap seorang ibu yang berdiri menggantung. Tangan kanannya kokoh memegang gantungan. Tangan kirinya memeluk tas. Seorang mbak-mbak menyentuh sekitar lututnya. “Bu, Ibu!” katanya. Beberapa orang mendengar.

Itu kali ke 68 aku naik kereta. Hari Jumat di bulan Agustus. Hari di mana lelah seminggu bersatu mencapai puncak.

Di hari Jumat, aku punya pola tingkah yang berbeda sebagai anak kereta. Pulang kantor tak perlu buru-buru. Kalau biasa jam enam sore sudah cus dari kantor, di hari Jumat aku beranjak jam tujuh atau delapan.

Orang-orang pinggiran kota, seperti dari Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok yang indekos di Jakarta–yang tidak sanggup pulang pergi setiap hari–akan pulang di hari Jumat. Mereka ini membuat kereta sesak mulai jam enam sore hingga sepuluh malam. Selain hari Jumat, biasanya di atas jam sembilan penumpang kereta sudah mulai renggang meski tetap ramai.

Sehingga di hari Jumat aku lebih memasrahkan diri. Tak perlu buru-buru. Yang penting dapat ruang di gerbong. Cukup.

Malam itu, dari stasiun Manggarai ke Bekasi aku kebagian ruang di gerbong lima. Jam 21.35.

Aku menempel di antara tubuh-tubuh yang lebih besar. Menghadap ke dinding kereta sebelah kiri dari arah laju kereta. Di depanku ada orang berdiri kokoh menggantungkan tangan. Di depan orang itu kursi panjang diduduki lima perempuan dan tiga laki-laki.

Di sini terasa nikmat berbadan tak setinggi orang lain. Aku berdiri memeluk tas ransel. Santai. Menutup mata. Tak mungkin aku jatuh meski kereta mengerem mendadak. Sesekali kubuka mata. Mengawas situasi atau kalau kereta berhenti di stasiun-stasiun pemberhentian.

Lalu terdengar pangumuman. “Sesaat lagi kereta Anda akan tiba di stasiun Klender Baru.” Orang di depanku grasak grusuk. Dia sedang mencari celah bergerak ke arah pintu. Dia akan turun di stasiun Klender Baru. Aku bergerak berusaha melonggarkan ruang.

Tepat di depanku sebelah kanan, berjarak dua orang, seorang mbak-mbak juga sedang berusaha beranjak dari tempat duduknya. Tampak dia juga akan turun.

Di hadapannya seorang ibu berdiri. Memegang gantungan tangan dengan kokoh. Tangan kirinya memeluk tas.

Si Mbak coba memberi kode ke orang-orang yang berdiri di depannya. Tapi tak ada yang tanggap. Ia pun terlihat enggan menyentuh.

Kereta semakin melambat. Si Mbak makin tak sabar. Takut tak sempat turun jika kereta berhenti. Karena rata-rata pemberhentian di stasiun kecil tak lebih dari setengah menit.

Kali ini ia memberanikan diri. Ia coba menyentuh si Ibu di depannya. “Bu, Ibu,” katanya sambil menyentuh sekitar lutut si Ibu. Beberapa orang mendengarnya. Termasuk aku. Mataku dan beberapa orang lain menatap si Ibu.

Rupanya ia tidur. Tidur berdiri.

Orang di samping si Ibu membantu membangunkannya.

Desakan Buatan Copet

Desakan itu terasa tak biasa. Saat itulah telepon genggamku raib.

Itu kali ke-26 aku naik kereta. Kali itu, aku pulang bersama teman kantor, Dahlia Rera, yang biasa aku panggil Dai.

Hari itu kami pulang sesuai jam kantor. Jam enam teng sudah bergegas menuju stasiun Palmerah.

Seperti biasa, dari stasiun Palmerah menuju Tanah Abang, kami bisa leluasa duduk di kereta commuterline Jabodetabek.

Sampai di stasiun Tanah Abang, suguhan pemandangannya seperti biasa. Lautan manusia. Sejak menjadi pengguna kereta, aku sudah hafal betul bagaimana bertindak di sini. Tas diransel ke depan. Peluk erat. Dan ketika kereta berhenti, langsung lompat keluar. Sedetik pun terlambat, aku hanya akan terseok-seok di dalam kereta. Ibarat gorengan di kuali.

Aku dan Dahlia gampang saja turun dari kereta. Di peron lima. Yang sulit itu adalah bergerak maju menuju tangga naik untuk pindah peron. Ibarat berenang di lautan. Pelan-pelan menyibak air.

Saat kami sampai, sebenarnya kereta tujuan stasiun Manggarai–stasiun transit kami– sudah tersedia di peron tiga. Tapi karena begitu lamanya menyibak lautan manusia, ketika turun tangga, kereta sudah melaju. Kalau begini ceritanya, biasanya akan lebih lama menunggu kereta berikutnya.

Benar saja. Tidak ada kegiatan lain yang perlu dilakukan selain menunggu.

Aku dan Dahlia bersiap di peron tiga. Berdiri samping-sampingan. Ujung kaki kami tepat di garis kuning peron. Sekitar sedikit lebih panjang dari penggaris tiga puluh sentimeter dari jalur kereta. Kami berdiri paling depan. Ini juga salah satu laku yang sudah kami hafalkan sebagai anker atau anak kereta.

Kami tak banyak bercerita. Masing-masing sibuk dengan telepon genggam. Hanya sesekali saling berhadapan. Menunjukkan video lucu di instagram atau sekadar berkata, “Hadeeh, lamanya.”

Tiga puluh menit kemudian ada penampakan kereta di jalur tiga. Tujuan Bogor. Ini kereta yang kami tunggu.

Kami bersiap. Kurapikan posisi tas di depan perut. Kupeluk ringan. Telepon genggam kumasukkan ke saku celana sebelah kiri. Model sakunya ini menempel miring tanpa penutup. Tapi kantongnya agak dalam sampai ke paha. Orang dari belakang mulai mendesak-desak.

“Dai, siap-siap,” kataku menyemangati. Hanya basa-basi. Sesungguhnya aku yang sedang berusaha menguatkan diri. Jujur saja, dia lebih petarung dibandingkan aku soal urusan naik kereta. Aku masih bocah. Dia orang Bekasi asli yang kerja di Jakarta–tapi sekarang dia sudah indekos yaa–.

Kereta semakin mendekat. Desakan makin menjadi. Dari belakang. Kiri dan kanan.

Saat kereta benar-benar berhenti, orang-orang semakin beringas. Dorongan-dorongan semakin kencang. Aku dan Dahlia terpisah.

Kami menyelamatkan diri masing-masing. Selamat untuk masuk kereta.

Akhirnya! Aku senyum lega menyadari tubuhku sudah ada di dalam gerbong. Berhasil!

Tak perlu berpegangan. Peluk erat tas saja. Kami, penumpang, saling mengelilingi di dalam kereta. Menempel. Erat. Tak akan ada yang jatuh meski kereta ngerem mendadak.

Kereta mulai bergerak. Saatnya bertanya Dahlia di gerbong mana. Hati-hati kugerakkan tangan kiri ke bawah. Takut orang lain mengira tanganku mau bergerak eneh-aneh.

Belum sampai jari-jariku di kantong celana, tiba-tiba aku merasa janggal. Kantong celana plong. Rasa tak ada isinya. Tak ada beratnya.

Benar saja. Telepon genggamku dicopet orang.

Selama perjalanan, aku mulai merenung. Mencoba memutar ulang peristiwa desak-desakan tadi. Memang tak biasa. Aku sudah hampir sebulan naik kereta. Desak-desakan itu hal biasa. Tapi tadi itu memang terasa beda. Dibuat-buat.  

Ada orang yang sudah menilik korban. Mengatur gerakannya.

Hari itu, aku jadi salah satu korban pencopetan. Bisa jadi ada korban lain di stasiun yang sama.

Sejak pertama kali menjadi anker, aku sudah memberi stigma kepada stasiun Tanah Abang sebagai stasiun paling beringas yang aku lewati. Maka setelah telepon genggamku itu raib, aku tak mau lagi melewati stasiun itu untuk berangkat atau pulang kerja.

Kalau mau ke kantor, aku berhenti di stasiun Karet lalu memesan transportasi online. Demikian sebaliknya, dari kantor langsung ke stasiun Karet.

Bukannya menyerah karena peristiwa itu. Tapi ada sisi kemanusiaan yang menurutku tereduksi oleh situasi-situasi di stasiun itu. Yang memang sejak menjadi anker, aku sudah merasakannya.

  

Para Sprinter di Stasiun Kereta Api

Seorang bapak berlari kencang. Sekencang-kencangnya. Menerobos orang-orang tanpa menabrak. Ia jago betul memalingkan tubuhnya dan mengerem kakinya, lalu berbelok, agar tidak menabrak orang di depannya. Dalam sekejap, ia sudah ada di gerbong tiga kereta tujuan Bogor. Pintu otomatis menutup.

Orang yang menyaksikan itu pasti lega. Yes, berhasil! Ibarat sedang menonton pertunjukan.

Itu kali ke-30 aku menjadi penumpang kereta api commuter line Jabodetabek. Kali ini aku sedang berdiri santai di peron empat stasiun Manggarai. Menunggu kereta tujuan Bekasi, seperti biasa.

Di jalur enam sedang berhenti kereta tujuan Bogor. Menunggu pemberangkatan.

Penumpang kereta itu sudah penuh. Semua kursi sudah terisi. Tampak dari banyaknya orang berdiri. Bahkan ada penumpang yang menggantung persis di pintu gerbong. Ini pemandangan biasa sebelum pintu gerbong tertutup.

Di salah satu pintu gerbong enam ada yang sedang berjuang masuk. Dorong sana sini untuk dapat sedikit ruang. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Bagi yang tidak, ada yang menyerah menunggu kereta berikutnya. Ada pula yang terus berjuang dari pintu gerbong lain. Bergeser ke gerbong lima atau empat. Pokoknya mencari celah masuk.

Dari tempatku berdiri tampak ada kereta yang akan masuk di jalur dua. Kereta itu masih ngerem ketika masuk di jalur dua stasiun Manggarai. Geraknya melambat sebelum benar-benar berhenti.

Lalu terdengar suara petugas mengumumkan kalau kereta tujuan Bogor akan diberangkatkan.

Semua penumpang kereta tujuan Bogor di peron enam bersiap berangkat. Yang tadinya menggantung di pintu gerbong, langsung mendorong tubuhnya ke dalam.

Saat itulah tampak seorang bapak. Berlari kencang. Sekencang-kencangnya. Menerobos orang -orang tanpa menabrak. Ia jago betul memalingkan tubuhnya dan mengerem kakinya, lalu berbelok, agar tidak menabrak orang di depannya. Dalam sekejap, ia sudah ada di gerbong tiga kereta tujuan Bogor.

Pintu otomatis menutup. Aku yang menyaksikan lega. Untung selamat. Kereta berangkat.

Bapak itu adalah penumpang kereta yang masuk di jalur dua tadi.

Setelah beberapa bulan jadi pengguna commuter line, pemandangan seperti ini menjadi biasa. Anak muda, perempuan atau laki-laki, bahkan orang tua, berlari cepat seperti sedang lomba sprint atau lari cepat. Demi sedikit ruang di gerbong kereta. Agar tidak terlambat ke kantor atau agar segera memuaskan dahaga ketemu anak, istri, suami, ayah, dan atau ibu.

Mereka adalah para sprinter yang sesungguhnya.

Anak Muda Di Penghujung Pintu Gerbong

Anak muda itu memanfaatkan celah di antara orang-orang yang sibuk dengan diri sendiri. Bergerak pelan menuju seorang ibu paruh baya. Tampaknya ia berkata biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

Ini pemandangan yang sejuk.

Malam itu, kali ke-22 aku naik kereta, dari Manggarai ke Bekasi. Aku menyempil di sudut gerbong tiga. Bersender di dinding sambungan gerbong tiga dan empat.

Dari sanalah aku menyaksikan seorang anak muda. Berdiri di dekat salah satu pintu gerbong. Pintu ujung gerbong tiga. Tak begitu jauh dari tempat aku berdiri. Tangan kanannya memegang gantungan yang memang disediakan untuk orang yang berdiri.

Perawakannya setinggi rata-rata orang Indonesia. Badan proporsional. Kutaksir usianya 27 tahun. Ia mengenakan jaket hitam. Tas diransel ke depan.

Pakaiannya rapi. Semiformal. Kemeja biru muda polos. Dan celana jeans. Aku tidak bisa melihat alas kakinya. Jarak kami dipenuhi orang. Tapi kutebak sepatu jenis boots. Saat dia mengangkat tas si Ibu untuk ditaruh ke bagasi, tampak dia mengenakan jam tangan. Model alexander christie tali kulit.

Awalnya semua penumpang kereta sudah sibuk dengan diri masing-masing ketika kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun Manggarai. Aku sendiri sudah dalam posisi nyaman.

Lalu kereta berhenti di stasiun Klender. Stasiun kelas III/kecil pemberhentian kedua setelah stasiun Jatinegara. Ada penumpang yang turun. Ada penumpang yang naik.

Seorang Ibu paruh baya naik. Dia berdiri di depan pintu. Ia membawa dua tas jinjing dengan ukuran berbeda. Yang kecil dijinjing dan yang sedang ditaruh di lantai.

Kereta mulai bergerak melanjutkan perjalanan, si Ibu mengatur posisinya. Orang-orang kembali sibuk dengan diri masing-masing.

Setelah merasa posisinya nyaman, si Ibu tampak menunduk. Ia mengambil tas yang tadi ditaruh di lantai. Ingin ditaruh di bagasi. Karena tas atau barang apa pun tak boleh ditaruh di lantai. Akan mengganggu orang yang berdiri.

Tapi tas itu tampaknya berat. Dan dengan begitu ramainya orang, ia kesulitan mengangkatnya.

Seorang anak muda kemudian bergerak. Memanfaatkan celah di antara orang-orang yang berdiri. Ia dekati si Ibu, seperti mengungkapkan biar saya bantu Ibu. Ia raih tas di lantai itu. Ia angkat dan letakkan di bagasi.

Si Ibu tampak semringah. Dari gerak bibirnya, ia mengucap terima kasih. Dari raut mukanya, tampak ketulusan.

Di gerbong yang begitu sesak, kutemukan kesejukan tak terkira. Tak sadar bibirku tersenyum. Sejenak dahagaku hilang.

Ibu Paruh Baya di Stasiun Manggarai 

Dari jarak aku berdiri. Aku melihat seorang ibu. Paruh baya. Tengah berjuang masuk ke dalam. Didorong orang yang hendak keluar dari gerbong. Didorong lagi oleh orang yang hendak masuk. ***

Kembali kudatangi stasiun Palmerah. Untuk ke-31 kali. Sore itu tampak lengang. Seperti biasa. Orang lalu lalang hanya satu, dua, tiga, empat, lima. Bagi anak sekolah dasar kelas satu, tak perlu tambahan potongan lidi untuk menghitungnya.

Hari ini aku meninggalkan kantor di jam biasa. 18.05.

Kurasa aku menunggu 15 menit. Kereta tujuan Tanah Abang datang. Tak ramai penumpang. Aku masuk. Duduk di dekat pintu. Bersandar santai.

Aku di gerbong lima. Hanya ada tiga orang lain yang duduk di kursi memanjang berwarna hijau tua yang kududuki. Satu duduk pas di samping pintu satu lagi persis seperti posisi dudukku. Dua orang duduk memisahkan kami. Kursi yang mampu menampung 6-8 orang ini cukup membuat jarak kami begitu lega.

Di seberang kami, kursi yang sama panjangnya, diduduki dua orang. Masing-masing duduk di samping pintu. Berjauhan. Persis seperti aku dan salah satu orang yang duduk sebaris.

Masing-masing dengan kesibukannya. Aku mengulang lagu Calum Scott lagi. If Our Love Is Wrong.

Belum sampai dua kali pengulangan, komuter line tiba di stasiun Tanah Abang. Dari dalam kereta tampak orang berlapis-lapis bersiap di peron. Seperti singa yang siap menerkam.

Kami, penumpang kereta, sudah bersiap turun saat kereta mulai melambat. Begitu benar-benar berhenti, aku langsung keluar. Tanpa hitungan detik. Lalu berjuang menghindar dari kerumuman yang sedang saling dorong masuk ke dalam perut kereta.

Butuh waktu 7-10 menit sejak aku turun sampai ke tangga stasiun Tanah Abang. Sampai di atas, sebelum turun tangga lagi untuk pindah peron, aku berhenti sejenak. Mengambil nafas. Merapikan letak tas yang menempel di perut.

Naik kendaraan umum seperti ini rawan pencurian. Tas ransel harus diransel ke depan, bukan ke belakang.   

Aku harus melanjutkan perjalanan. Aku turun tangga untuk pindah peron. Peron dua, tujuanku pun telah disesaki orang. Kucari celah di antara orang-orang itu. Terus bergerak hingga mendekati pinggir peron. Agar nantinya mudah masuk ke gerbong kereta.

Tiga puluh menit aku berdiri. Kereta tujuan Bogor datang.

Kereta itu semakin mendekat. Kulihat penuh dengan orang. Wajah-wajah menempel di pintu gerbong kereta. Tangan-tangan menahan tubuh memenuhi sisi-sisi dinding kereta. Kuurungkan niat untuk naik.

Tapi, ketika kereta benar-benar berhenti, ternyata banyak yang turun. Sepertinya aku bisa berjuang mendapatkan sedikit ruang. Aku berlomba dengan penumpang lain. Beruntung tubuhku tak besar. Mudah saja aku masuk mengalahkan yang lain.

Aku sudah di dalam kereta. Wajahku dikelilingi ketiak, wajah orang lain, punggung orang lain, dan leher orang lain. Lengket. Tak bisa bernafas lega. Muncul penyesalan. Mestinya tadi aku tunggu saja. Aku menengadahkan wajah ke atas.

Tiba di stasiun Manggarai. Aku turun lagi untuk transit. Aku bertaubat. Tidak akan masuk kalau seramai tadi. Kusibukkan diri dengan telepon genggam dan musiknya.

Selama 20 menit menunggu. Mulut kereta tampak mendekat. Tujuan Bekasi. Ini dia keretanya. Kereta itu semakin mendekat. Pemandangan yang sama. Wajah menempel di pintu gerbong. Sisi kereta dipenuhi tangan-tangan yang menahan tubuh agar tak jatuh. Kuurungkan niat untuk naik.

Aku mundur dari gerombolan orang yang sedang mengumpulkan nyawa dan tenaga untuk masuk. Aku mengalah. Aku menjauh.

Kereta itu berhenti.

Seperti singa lapar. Gerombolan orang di tiap pintu gerbong siap masuk. Peraturannya, orang yang keluar gerbong harus didahulukan. Tapi ini singa lapar. Tak ada kesabaran. Kulihat. Gerombolan orang itu mendesak masuk. Bersamaan. Orang yang di dalam kaget. Tak mau kalah mereka mendorong keluar.

Ada yang berhasil keluar. Ada yang berhasil masuk. Ada yang terseok di dalam kereta. Ada pula yang terombang-ambing di luar kereta.

Dari jarak aku berdiri. Aku melihat seorang ibu. Paruh baya. Tengah berjuang masuk ke dalam. Didorong orang yang hendak keluar dari gerbong. Didorong lagi oleh orang yang hendak masuk.

Sekejap kulihat ibu itu ada di bibir pintu. Sekejap lagi sudah jauh dari bibir pintu. Sekejap kemudian sudah ada di pinggir bibir pintu menjamah tepi bibir pintu. Sekejap lagi sudah menjauh. Cukup jauh untuk dikatakan bisa masuk ke gerbong. Sekejap kemudian dia sudah ada di bibir pintu. Kali ini tangannya erat memegang gagang pintu. Tubuhnya menunduk. Desak-desakan tak henti. Sekajap lagi. Ibu itu tak lagi nampak.

Peluit berbunyi. Kereta bergerak. Meninggalkan orang-orang yang tak berhasil masuk. Meninggalkan orang yang mengalah. Perut kereta kekenyangan.