Ada Apa di Toilet Pria Stasiun?

Aku sedang buang air kecil di salah satu urinoir paling pinggir toilet pria stasiun Bekasi. Di samping kananku ada dua orang yang juga sedang [dugaan awal] melakukan aktivitas yang sama.

Saat menikmati kelegaan membuang air seni yang ditahan-tahan dari tadi, aku merasa orang yang persis di samping kananku mengarahkan wajahnya ke aku. Awalnya aku tak peduli. Aku tetap fokus.

Tapi lama-lama aku risih. Kok si Mas ini kayaknya mukaknya ke arahku terus. Kuberanikan menoleh ke kanan sekejap. Benar. Dan nampaknya arah matanya bukan ke wajahku, tapi ke urinoir yang kupakai.

Kuusahakan tetap fokus.

“Kenapa Mas? Airnya tidak keluar?” aku tiba-tiba menolehkan wajahku ke dia. Dalam pikiranku, air pancuran urinoir dia mati. Mungkin dia ingin aku cepat-cepat selesai, agar dia pindah ke urinoir yang kupake.

Gubraakk! Ternyata bukan. Dia mengajakku “begituan”.

Buru-buru aku selesai. Sempat kuumpatkan kata “anjinglah” pada pelecehan seksual itu sambil menarik kancing celana dan meninggalkan toilet.

Saat itu aku masih anak kereta yang culun. Kali ke-6 aku naik kereta rel listrik Jabodetabek.

Sejak kejadian itu, aku selalu berusaha menghindari buang air kecil di toilet stasiun. Sebisa mungkin. Sebelum berangkat ke kantor, aku selesaikan dulu urusan-urusan yang berkaitan dengan metabolisme tubuh ini. Demikian halnya dengan sebelum pulang dari kantor.

Tapi, selama setahun menjadi anak kereta, aku tak selalu berhasil. Terutama saat pulang kantor. Kadang aku lupa dengan urusan ini. Apalagi kalau pulang buru-buru dan larut malam. Dengan ikhlas, kadang aku harus ke toilet stasiun.

Suatu kali, aku harus ke toilet untuk buang air besar. Di stasiun Bekasi.

Fakta di sini jauh lebih mengejutkan. Dinding toilet penuh coretan. Kalau coretan-coretannya seperti dalam cerita Eka Kurniawan, Corat-Coret di Toilet, itu masih menyenangkan. Bisa membuat kita tertawa terpingkal-pingkal atau terinspirasi membasmi koruptor di negara ini dalam sekejap.

Tapi ini beda. Semua coretan-coretannya mengajak berhubungan seksual. Sesama jenis. Ini nomorku, aku jago bla bla bla. Sini aku bla bla bla. Ayo bla bla bla. Silakan kalian lanjutkan. Tak hanya kata-kata, ada gambar-gambar yang melengkapi.

Aku segera menyelesaikan urusan pribadi di toilet itu. Lagi, sebisa mungkin aku menghindari toilet stasiun Bekasi.

Ternyata, tak hanya di stasiun Bekasi. Coretan-coretan vulgar itu ada juga di toilet stasiun Tanah Abang dan stasiun Manggarai. Tapi tidak separah dan sebanyak di toilet stasiun Bekasi. Di stasiun Tanah Abang, tampak ada usaha pembersihan dari petugas toilet. Coretan-coretan itu ada yang ditimpa dengan cat.

Sejak pengalaman pertama menggunakan urinoir di stasiun Bekasi, aku tak pernah lagi memedulikan orang di sampingku saat harus kencing dengan tempat buang air kecil berdiri itu. Pengalaman dilecehkan itu pun tak pernah terulang lagi.

Aku bukan anti dengan teman-teman penyuka sesama jenis. Orientasi seksual adalah hak asasi. Tapi apapun orientasi seksual Anda, jangan pernah melakukan pelecehan.

Pingsan

“Mas, tolong bantu Mas, keluar aja,” begitu salah satu ucapan yang terdengar dalam kehebohan malam itu. Seorang perempuan pingsan. Sekilas kulihat wajahnya basah. Keringat.

Aku sudah tidak bisa lagi membedakan suasana malam-malam di kereta rel listrik Jabodetabek. Dari Manggarai ke Bekasi. Apakah malam itu tidak biasa atau biasa saja. Yang kurasakan, malam-malam di kereta itu sama. Sesak. Itu sudah ke 198 aku naik kereta.

Berdiri. Wajah menengadah. Menghadap langit-langit gerbong. Mencari ruang menghirup oksigen. Tas menempel di perut. Sedikit bungkuk. Pegal. Menjadi biasa.

Aku di gerbong empat. Di dekat pintu dekat sambungan gerbong lima. Di sini posisi favoritku. Aku bisa menyenderkan tubuh di dinding sambungan jika kosong. Tapi malam itu aku kurang beruntung. Dari Manggarai hingga Bekasi, dinding itu dikuasai seorang bapak-bapak.

Kereta terus melaju. Kini sudah melewati stasiun Cakung. Lewat satu stasiun lagi, Kranji, sudah akan sampai Bekasi. Aku sudah mahir memupuk kesabaran dan ketenangan.

Tapi tiba-tiba grasak-grusuk terjadi. Persis di depanku.

“Pingan, pingsan,” begitu bunyi suara-suara yang terdengar.

“Panggil satpam,” demikian seruan beberapa orang.

“Kasi ruang sedikit,” kata beberapa orang.

Aku belum bisa melihat kejadian sesungguhnya. Siapa yang pingsan. Ada empat orang yang melapis jarakku ke titik grasak-grusuk. Aku hanya bisa mendengar suara-suara itu sambil berdoa semoga secepatnya tiba di stasiun Kranji.

Tak ada ruang untuk orang yang pingsan itu ditelentangkan. Dari sisi-sisi orang di hadapanku, tampak seorang perempuan bersandar lemas di bahu seorang laki-laki. Ooh, rupanya Mbak itu.

Usianya mungkin 29 tahun. Aku melihat senderan kepalanya di bahu laki-laki itu. Dahi perempuan itu kadang terlihat. Basah oleh keringat. Tampak beberapa orang menunjukkan keprihatinan. Memegang tubuh perempuan itu agar tetap bersandar.

Kereta mulai melambat. Syukurlah. Sebentar lagi akan tiba di stasiun Kranji.

“Mas, tolong bantu Mas, keluar aja,” kata si laki-laki yang bahunya disenderi minta bantuan kepada mas-mas yang lain, yang dekat, ketika kereta berhenti. Menggotong tubuh perempuan itu keluar gerbong. Ada orang yang keluar gerbong, meminta bantuan satpam. Satpam datang.

Si Mbak ditelentangkan di peron. “Ada temannya gak ini?” Pak Satpam bertanya.

Tak ada yang mengaku.

Si Mas yang disenderi menitip si Mbak ke satpam. Lalu ia masuk lagi ke gerbong kereta.

Pintu kereta menutup. Melaju. Meninggalkan si Mbak telentang di peron, dijagai satpam dan beberapa orang.

Pura-pura Tidur

Pak Satpam masuk dari sambungan gerbong tiga ke empat. Seorang bapak renta mengikutinya. Bola mata Pak Satpam lincah bergerak ke kiri dan kanannya. Menembus sela-sela di antara orang berdiri. Ia hampir putus asa. Semua orang yang duduk tampak tidur.

Saat itu aku sudah mulai hafal perilaku orang-orang di kereta. Itu malam hari, pulang dari kantor, kali ke 126 aku naik kereta.

Di kereta, ada orang yang bisa tidur berdiri. Tak perlu kau tanya bagaimana mungkin. Keadaan bisa menjadikan apa pun bisa terjadi. Aku pernah menceritakannya di sini.

Ada yang pura-pura serong kiri kanan. Dorong depan belakang. Beragam maksudnya. Ada yang melecehkan orang lain karena nafsu birahi. Ini juga ada ceritanya di sini. Ada pula yang hanya ingin bersandar karena tidak kebagian gantungan tangan.

Bagi yang duduk, tidur adalah pilihan paling nyaman.

Bagi yang benaran tidur. Pertama, mungkin dia kelelahan. Kedua, dia ingin mempertahankan kekuasaan pada kursinya.

Tapi, ada juga yang pura-pura tidur. Wajah yang benaran tidur dengan yang pura-pura tidur sesungguhnya kelihatan jelas. Tapi ya prinsipnya usaha. Tujuannya jelas, mempertahankan status quo pada kursinya.

Demikianlah pada malam itu. Tampaknya Pak Satpam sudah mencari-cari kursi di gerbong tiga kereta yang membawa kami dari stasiun Manggarai ke Bekasi. Tapi tidak ada yang kosong dan tidak ada yang merelakan kursinya untuk si Bapak yang tua renta. Hingga ia sampai di gerbong empat. Si Bapak tua setia mengikut dari belakang.

Wajah Pak Satpam tampak putus asa. Melihat semua penumpang di kursi kiri dan kanan tak ada yang terjaga. Semua tidur. Ada yang menutup wajahnya dengan kopiah, jaket, sapu tangan, ada juga yang tidak sama sekali. Tapi tampak pulas.

Dari tadi sebenarya perhatianku tertuju pada seorang anak muda yang duduk. Mungkin usianya 23 tahun. Kadang ia melirik telepon genggamnya. Lalu menutup mata. Melirik sekeliling. Lalu menutup mata. Sebagai anak kereta yang sudah tidak culun lagi, aku cukup paham tingkah-tingkah seperti ini.

Kubilang sama Pak Satpam, “Mas yang itu coba Pak dibangunkan.” Aku menunjuk pada anak muda itu.

Pak Satpam mendekati si anak muda. Pundaknya disentuh. “Mas,” kata Pak Satpam. Anak muda langsung membuka mata. “Tolong kursinya Mas untuk Bapak ini,” ujar Pak Satpam.

Anak muda itu bergegas. Si Bapak yang renta lalu duduk.

Kalau Mau Nyaman, Naik Taksi Sana

“Ibu kalau mau nyaman naik taksi sana!” kata seorang ibu kepada seorang ibu yang lain dengan suara yang mengagetkan satu gerbong. Berpasang-pasang mata sontak menghadap mereka.

Kejadian itu hanya beberapa detik usai pintu otomatis kereta menutup. Kereta dari stasiun Tanah Abang ke Bogor. Aku masih anak kereta yang culun. Di kali ke empat menumpangi kereta pulang kantor. Pukul 19.05.

Stasiun Tanah Abang tidak pernah sepi. Aku sudah mendengarnya dari orang-orang sebelum aku sah menjadi anak kereta. Selain dipenuhi orang-orang yang bekerja, stasiun ini dipenuhi orang-orang yang belanja di pasar tanah abang.

Tidak heran, ada ibu-ibu atau bapak-bapak atau mbak-mbak dan mas-mas membawa gondolan belanjaan. Di kardus. Di karung goni. Di plastik besar. Ada yang bawa dua tiga empat atau hanya satu.

Aku sudah bersiap masuk gerbong ketika kereta mulai makin melambat di jalur tiga. Aku akan naik kereta tujuan Bogor untuk transit di stasiun Manggarai. Dari Manggarai baru nyambung ke Bekasi.

Ada beberapa ibu yang sudah bersiap juga dengan gondolan belanjaan. Ibu-ibu itu tidak sendirian. Mungkin itu suami atau anaknya yang menemani. Atau temannya.

Sempat terpikir, bagaimana ibu-ibu ini akan masuk ke dalam gerbong dengan kondisi kereta yang sangat ramai penumpang. Yang menunggu di peron saja sudah desak-desakan. Tapi sekali lagi, itu pikiran culunku.

Mereka pejuang-pejuang gerbong. Yang sudah terbiasa.

Ketika kereta benar-benar berhenti, para penumpang di dalam gerbong mulai keluar. Ada yang melompat. Buru-buru. Menghindari kami, penumpang yang mau masuk duluan menyerobot ke dalam.

Ada saja gerak penumpang yang turun lambat. Yang begini akan jadi korban seok-seok. Didorong dari luar. Didorong dari dalam. Umpatan terdengar.

Akhirnya aku berhasil masuk. Ramai. Padat. Aku mulai beradaptasi. Wajah aku tengadahkan ke atas. Tas ransel kupeluk erat di perut.

Hanya berselang beberapa detik, terdengar keriuhan.

“Ibu kalau mau nyaman naik taksi sana!” kata seorang ibu ke seorang ibu yang lain. Sekejap beberapa pasang mata menghadap mereka.

Rupanya itu suara salah satu ibu yang tadi, yang tak jauh dariku saat menunggu kereta, yang membawa gondolan belanjaan. Di gerbong pun jarak kami sangat dekat. Dia berdiri pas di depan pintu. Aku memegang gagang pintu. Menempel di dinding kursi panjang.

Dia marah pada seorang ibu karena si Ibu ini menunjukkan wajah tidak senang karena belanjaan si Ibu menimpa kakinya. Wajah masam itu ia hadapkan pada si Ibu yang punya belanjaan sambil menggeser kakinya. Terdengarlah teriakan itu.

Si Ibu yang disemprot tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menggeser tubuhnya. Sedikit serong menjauh dari penampakan ibu yang punya belanjaan. Tidak ada ruang untuk benar-benar menjauh.

Mungkin dia sudah lelah dengan pekerjaan di kantor hari itu. Membalas semprotan si Ibu hanya membuang energi. Tak berguna.

Aku setuju dengan tindakannya.

Kereta terus melaju. Gerbong membisu.

Kecopetan di Kereta Adalah Bentuk Kehilangan Paling Ikhlas

Seorang bapak-bapak tampak gusar. Kedua tangannya gesit meraba saku-saku celana dan saku kemeja yang menempel di dada kirinya. Telepon genggamnya raib. Kejadian itu hanya barang sedetik setelah pintu otomatis menutup. “Ah, yasudahlah,” katanya akhirnya.

Aku sedang berselancar di instagram ketika kereta berhenti di stasiun Sudirman. Stasiun pertama setelah Manggarai. Kereta akan mengakhiri perjalanan di stasiun Tanah Abang setelah melewati stasiun Karet. Waktu menjelang siang di kali ke 17 aku naik kereta hendak ke kantor.

Di gerbong aku berdiri, hampir tujuh puluh persen penumpang turun. Aku sendiri turun dulu untuk memudahkan penumpang lain yang mau keluar. Setelah semua turun, baru aku naik lagi. Plong. Pintu otomatis menutup. Kereta beranjak.

Daerah Sudirman memang salah satu pusat bisnis di DKI Jakarta.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak di dekatku tampak grasak grusuk. Kedua tangannya lincah meraba saku celana dan kemejanya. Beberapa kali ia meraba saku kemeja yang menempel di dada kirinya. Beberapa kali juga ia meraba saku samping dan belakang celananya.

Karena begitu banyaknya penumpang tadi dari stasiun Manggarai, aku tidak tahu persis si Bapak ini penumpang baru naik di stasiun Sudirman atau tidak. Tapi aku menduga ia bukan penumpang baru.

“Kenapa Pak?” aku bertanya.

“HP-ku, kayaknya ada yang ambil,” katanya.

Ia cek lagi saku-saku di celana dan kemejanya. Benar, raib.

Penumpang-penumpang lain menunjukkan empati. Ada yang mencoba menduga-duga. Mungkin HP-nya tadi diambil pas penumpang banyak yang turun. Kayaknya dari tadi Bapak sudah diintai. Tadi emang taruh di mana Pak? Waduh, kalau hilang di kereta mah gak bakal ketemu. Kemarin malam ada juga yang kecopetan di stasiun Tanah Abang. Dan lain-lain.

Si Bapak sempat tampak lemas. Tapi, “Ah sudahlah,” katanya akhirnya. Mukanya berubah biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Kecopetan di kereta memang bentuk kehilangan paling ikhlas.

Mau berkata apa lagi?

Dua kata yang diucapkan si Bapak itu memang ampuh menenangkan suasana. Tak ada lagi duga-duga yang tidak membantu. Semua kembali pada posisi nyaman masing-masing.

Pada dasarnya mental copet memang masih digemari sebagian orang. Apalagi di kereta sistem keamanannya belum memadai, misalnya belum ada CCTV. Sehingga ketika terjadi copet, tidak ada usaha lain yang perlu dilakukan selain mengikhlaskan. Karena berusaha menemukan pencopet hanya akan membuat kita tampak bodoh.

Kursi di Kereta, untuk Siapa?

Si Kakek, kutaksir usianya 60 tahun, memberi kursinya kepada si Mbak, kutaksir usianya 32 tahun. Si Mbak, sambil mengucapkan terima kasih, duduk. Si Kakek, sambil memegang kantongan plastik di tangan kiri, berdiri dan meraih gantungan tangan.

Konstruksi yang dibangun bertahun-tahun lamanya, tentang laki-laki dan perempuan memang telah begitu mengakar. Laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Oleh karena itu, pantang perempuan berdiri di dalam kereta atau transportasi lainnya.

Itu adalah kali ke 12 aku naik kereta. Malam itu kereta sudah mulai sepi. Dari stasiun Manggarai berangkat pukul 21.25 menuju Bekasi. Meski sepi, aku tetap berdiri. Di gerbong enam. Kursi-kursi terisi penuh. Yang berdiri satu dua tiga orang. Itu malam Rabu.

Kalau kondisi gerbong seperti ini, biasanya aku larut di internet. Menonton youtube ajang pencarian bakat bernyanyi yang diunggah akun youtube stasiun televisi. Pindah ke instagram. Scroll up scroll down. Searching video-video lucu. Aku tidak begitu peduli pada pemberhentian di stasiun-stasiun kecil.

Namun, ketika kereta baru saja bergerak meninggalkan stasiun Klender Baru, perhatianku tertuju pada satu baris kursi di sebelah kiriku.

Ada penumpang yang baru masuk. Seorang perempuan, yang kutaksir berusia 32 tahun. Tampaknya ia baru pulang dari kantor. Pakaian yang dikenakan rapi. Kemeja bunga-bunga dominan warna biru muda dengan celana bahan hitam. Ia meransel tas ke perut. Sepatunya pansus hitam.

Ia berjalan mendekati kursi yang diduduki lima perempuan dan tiga laki-laki. Tujuh dari delapan orang itu menutup mata. Tidur atau pura-pura tidur. Hanya satu orang, yang dari penampakannya lebih sopan dipanggil Kakek, terjaga. Rambutnya dominan putih. Jaketnya tebal. Wajahnya tampak penuh garis-garis tebal dan halus.

Perempuan itu mendekati si Kakek.

Lalu si Kakek berdiri, mempersilakan si perempuan yang baru mendekat untuk duduk. Si perempuan itu mengucap terima kasih, lalu duduk. Si Kakek berdiri sambil meraih gantungan tangan.

Penampakan ini mungkin biasa saja. Apalagi di Indonesia yang kental budaya patriarkinya. Laki-laki dikonstruksikan sebagai sosok yang tangguh. Harus mengalah pada perempuan.

Jika si Kakek memberi kursinya karena takut dianggap tidak tangguh, betapa malang dia. Jika si perempuan menerima tawaran kursi itu karena merasa lebih berhak sesuai dengan jenis kelaminnya, betapa kurang belajar dia.

Bukankah sebaiknya memilih duduk atau tidak di dalam kereta, hal yang mesti jadi pertimbangan adalah ketahanan tubuh? Bukan jenis kelamin. Ada laki-laki yang lebih kuat dari perempuan. Ada juga perempuan yang lebih kuat dari laki-laki.

Jenis kelamin bukanlah patokan ketahanan tubuh. Jenis kelamin adalah bagian tubuh yang membedakan laki-laki dan perempuan secara biologis.

Tentu memberi kursi kepada Ibu hamil adalah keharusan. Tapi bukan karena ia perempuan, tapi karena ketahanan tubuhnya sedang lemah karena membawa jabang bayi di perutnya dan penting untuk keselamatannya.

Pengalaman seperti malam itu berkali-kali aku saksikan selama menjadi anak kereta. Kita masih perlu banyak berefleksi.

Pelecehan

“Heh, tanganmu!” Seorang perempuan berteriak. Demikianlah pelecehan itu terjadi.

Di kali ke 56 aku naik kereta rel listrik atau krl, stigma orang-orang pada kereta itu kusaksikan sendiri. Di krl sering terjadi pelecehan seksual. Begitu kata mereka.

Sebenarnya pelecehan seksual tidak mengenal tempat. Bisa terjadi di mana saja. Hanya karena kondisi krl yang selalu penuh penumpang, terutama saat jam berangkat dan pulang kantor, transportasi besi berjalan itu menjadi tempat yang rentan pelecehan terjadi.

Kereta yang mengangkut kami dari stasiun Manggarai ke Bekasi malam itu berjalan seperti biasanya saja. Di malam Kamis, jumlah penumpang ramai.

Waktu itu sudah mendekati pukul sembilan malam. Jumlah kami sudah mulai sedikit berjarak. Aku tak perlu menengadahkan wajah ke atas. Ada ruang-ruang di antara kepala, pundak, leher, dan punggung yang bisa membuatku bernafas sedikit lebih leluasa.

Kereta baru saja meninggalkan stasiun transit Jatinegara. Tak sampai sepuluh menit, kereta sudah mulai lagi melambat. Tanda kereta akan berhenti lagi. Kali ini di stasiun Klender.

Kereta semakin melambat. Semakin pelan. Pengumuman pun sudah berganti dari kereta Anda akan tiba di stasiun Klender menjadi, “Hati-hati pintu sebelah kanan akan segera dibuka.”

Tiba-tiba seorang perempuan berteriak. “Heh, tanganmu!”

Suara itu membuat penumpang di gerbong empat bangun. Bangun dari tidur, bangun dari ketidaksadaran, bangun dari lamunan. Termasuk aku. Mencari sumber suara.

Kami menatap ke arah perempuan yang berteriak. Di depannya seorang laki-laki menunduk salah tingkah.

Jarakku tidak begitu jauh. Hanya dilapis tiga empat orang. Namun aku tak bisa melihat penuh wajah laki-laki itu.

Dia mengenakan jaket abu-abu. Tidak pakai tas. Rambutnya hitam pendek sedikit beruban. Mungkin usianya 43 tahun.

Seorang ibu-ibu melibatkan diri. “Kenapa tadi Mbak?” dia tanya.

“Ini, aku sudah awasi sejak tadi gerak-geriknya, pegang-pegang saya, kamu pikir saya apa?” katanya lantang menghadap si laki-laki. Ia melotot. Si laki-laki menunduk.

Kereta sudah berhenti. Ada yang masuk dan keluar. Kami, yang mengetahui kejadian itu masih melotot kepada si laki-laki itu. Laki-laki yang terus menunduk.

Meski ia menunduk, ia tahu berapa pasang mata yang menatapnya. Sekejap, ia melompat dari gerbong. Hanya barang sedetik, pintu otomatis kereta menutup.

Ia tampak berjalan jauh, jauh. Menjauhi kereta yang turut menjauh.

Demikianlah pelecehan seksual itu terjadi.

Pengalaman serupa kemudian kusaksikan kurang lebih tiga kali selama menjadi anak kereta.

Titik Terendah Kemanusiaan

Kurasa titik terendah kemanusiaanku berada pada saat menumpangi kereta rel listrik. Saat kali ke 41 aku naik commuterline Jabodetabek.

Kereta yang kutumpangi dari stasiun Manggarai ke Bekasi berangkat pukul 20.35. Seperti biasa, aku menempel di antara punggung-punggung penumpang lain. Posisi tubuhku tidak lurus benar. Sedikit bungkuk karena dorongan dari belakang ditambah berat tas yg kuransel ke depan.

Meski sedikit bungkuk, aku berusaha menengadahkan wajah ke atas. Agar sedikit lebih leluasa menghirup oksigen. Dibanding mencium bau dari pundak, kepala, atau punggung penumpang yang menempel. Kalau tengkuk mulai pegal, kutundukkan kepala barang sebentar. Lalu kutengadahkan lagi.

Tak ada yang aneh ketika perjalanan itu dimulai. Seperti biasa, kereta berhenti di stasiun transit Jatinegara. Di sini berhenti sekitar dua menit. Terus melaju melewati stasiun Cipinang, langsung berhenti di stasiun Klender. Biasanya di sini berhenti paling 30 detik. Tapi kali ini beda.

Kereta tak juga bergerak meski sudah menunggu lima menitan.

Dalam posisi itu, lima menit seperti lima jam. Orang-orang mulai gusar. Tubuh-tubuh yang tadi diam-diam saja mulai gerak sana gerak sini. Gerah. Tidak nyaman. Udara terasa semakin panas.

Pintu kereta sudah ditutup. Pengumuman berbunyi, “Maaf kereta Anda belum bisa diberangkatkan karena mengalami gangguan.” Dua kali. Kegusaran menjadi-jadi.

Untung tidak terlalu lama. Kereta mulai bergerak. Tiap orang mulai kembali ke posisi tenang.

Tapi ternyata hanya sebentar. Hanya melewati peron. Kereta mulai berhenti lagi. Total. Pengumuman maaf kembali terdengar.

Grasak-grusuk mulai lagi.

Detik demi detik berubah menjadi siksa. Menit-menit berubah menjadi neraka.

Pengumuman maaf berulang kali menyapa telinga. Bukannya meregangkan otot amarah. Pengumuman itu semakin menyulut emosi. Bagaimanapun kata maaf berulang kali sama sekali tidak membantu pada saat situasi kacau begitu. Lebih baik diam kalau tidak ada solusi.

Setiap pengumuman berbunyi dengan dimulai kata maaf, beragam umpatan terdengar.

Di salah satu sudut ada orang mengumpat. “Bangsat.” Di sudut lain “Kampret.” Kadang-kadang sahut-sahutan umpatan.

Serba salah. Siapa yang mau disalahkan?

Aku membayangkan kami seperti ikan dalam drum.

Drum yang diisi oleh ikan-ikan. Diisi sepenuh mungkin. Sepenuh-penuhnya. Sampai drum itu susah ditutup saking penuhnya. Drum itu berhasil ditutup. Dengan kekuatan super. Ikan-ikan di dalam tak punya ruang gerak.

Tiga puluh menitan kami menunggu.

Saat itu aku merasa ada pada titik terendah kemanusiaan.

Kereta mulai bergerak. Pengumuman terdengar lagi dengan bunyi berbeda.

“Sinyal kereta mengalami gangguan di stasiun Cakung. Waktu selesai perbaikan belum dapat dipastikan. Bagi Anda yang buru-buru, silakan berhenti di stasiun pemberhentian terdekat.”

Stasiun Cakung berada di posisi kedua setelah Buaran dan sebelum Bekasi.

Tiba di stasiun Buaran, semua orang keluar.

Ada yang duduk. Langsung di peron. Lemas. Ada yang langsung berjalan menuju pintu keluar. Ada yang buru-buru menuju toilet.

Aku berjalan menuju pagar peron. Menatap ke jalan yang ramai kendaraan. Kujemput kesadaran penuh sebelum keluar dan memesan transportasi online.

Besoknya media online memberitakan kemarin malam manusia membludak di stasiun Buaran akibat gangguan sinyal kereta rel listrik di stasiun Cakung.

Tidur Berdiri

Aku dan beberapa orang menatap seorang ibu yang berdiri menggantung. Tangan kanannya kokoh memegang gantungan. Tangan kirinya memeluk tas. Seorang mbak-mbak menyentuh sekitar lututnya. “Bu, Ibu!” katanya. Beberapa orang mendengar.

Itu kali ke 68 aku naik kereta. Hari Jumat di bulan Agustus. Hari di mana lelah seminggu bersatu mencapai puncak.

Di hari Jumat, aku punya pola tingkah yang berbeda sebagai anak kereta. Pulang kantor tak perlu buru-buru. Kalau biasa jam enam sore sudah cus dari kantor, di hari Jumat aku beranjak jam tujuh atau delapan.

Orang-orang pinggiran kota, seperti dari Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok yang indekos di Jakarta–yang tidak sanggup pulang pergi setiap hari–akan pulang di hari Jumat. Mereka ini membuat kereta sesak mulai jam enam sore hingga sepuluh malam. Selain hari Jumat, biasanya di atas jam sembilan penumpang kereta sudah mulai renggang meski tetap ramai.

Sehingga di hari Jumat aku lebih memasrahkan diri. Tak perlu buru-buru. Yang penting dapat ruang di gerbong. Cukup.

Malam itu, dari stasiun Manggarai ke Bekasi aku kebagian ruang di gerbong lima. Jam 21.35.

Aku menempel di antara tubuh-tubuh yang lebih besar. Menghadap ke dinding kereta sebelah kiri dari arah laju kereta. Di depanku ada orang berdiri kokoh menggantungkan tangan. Di depan orang itu kursi panjang diduduki lima perempuan dan tiga laki-laki.

Di sini terasa nikmat berbadan tak setinggi orang lain. Aku berdiri memeluk tas ransel. Santai. Menutup mata. Tak mungkin aku jatuh meski kereta mengerem mendadak. Sesekali kubuka mata. Mengawas situasi atau kalau kereta berhenti di stasiun-stasiun pemberhentian.

Lalu terdengar pangumuman. “Sesaat lagi kereta Anda akan tiba di stasiun Klender Baru.” Orang di depanku grasak grusuk. Dia sedang mencari celah bergerak ke arah pintu. Dia akan turun di stasiun Klender Baru. Aku bergerak berusaha melonggarkan ruang.

Tepat di depanku sebelah kanan, berjarak dua orang, seorang mbak-mbak juga sedang berusaha beranjak dari tempat duduknya. Tampak dia juga akan turun.

Di hadapannya seorang ibu berdiri. Memegang gantungan tangan dengan kokoh. Tangan kirinya memeluk tas.

Si Mbak coba memberi kode ke orang-orang yang berdiri di depannya. Tapi tak ada yang tanggap. Ia pun terlihat enggan menyentuh.

Kereta semakin melambat. Si Mbak makin tak sabar. Takut tak sempat turun jika kereta berhenti. Karena rata-rata pemberhentian di stasiun kecil tak lebih dari setengah menit.

Kali ini ia memberanikan diri. Ia coba menyentuh si Ibu di depannya. “Bu, Ibu,” katanya sambil menyentuh sekitar lutut si Ibu. Beberapa orang mendengarnya. Termasuk aku. Mataku dan beberapa orang lain menatap si Ibu.

Rupanya ia tidur. Tidur berdiri.

Orang di samping si Ibu membantu membangunkannya.

Desakan Buatan Copet

Desakan itu terasa tak biasa. Saat itulah telepon genggamku raib.

Itu kali ke-26 aku naik kereta. Kali itu, aku pulang bersama teman kantor, Dahlia Rera, yang biasa aku panggil Dai.

Hari itu kami pulang sesuai jam kantor. Jam enam teng sudah bergegas menuju stasiun Palmerah.

Seperti biasa, dari stasiun Palmerah menuju Tanah Abang, kami bisa leluasa duduk di kereta commuterline Jabodetabek.

Sampai di stasiun Tanah Abang, suguhan pemandangannya seperti biasa. Lautan manusia. Sejak menjadi pengguna kereta, aku sudah hafal betul bagaimana bertindak di sini. Tas diransel ke depan. Peluk erat. Dan ketika kereta berhenti, langsung lompat keluar. Sedetik pun terlambat, aku hanya akan terseok-seok di dalam kereta. Ibarat gorengan di kuali.

Aku dan Dahlia gampang saja turun dari kereta. Di peron lima. Yang sulit itu adalah bergerak maju menuju tangga naik untuk pindah peron. Ibarat berenang di lautan. Pelan-pelan menyibak air.

Saat kami sampai, sebenarnya kereta tujuan stasiun Manggarai–stasiun transit kami– sudah tersedia di peron tiga. Tapi karena begitu lamanya menyibak lautan manusia, ketika turun tangga, kereta sudah melaju. Kalau begini ceritanya, biasanya akan lebih lama menunggu kereta berikutnya.

Benar saja. Tidak ada kegiatan lain yang perlu dilakukan selain menunggu.

Aku dan Dahlia bersiap di peron tiga. Berdiri samping-sampingan. Ujung kaki kami tepat di garis kuning peron. Sekitar sedikit lebih panjang dari penggaris tiga puluh sentimeter dari jalur kereta. Kami berdiri paling depan. Ini juga salah satu laku yang sudah kami hafalkan sebagai anker atau anak kereta.

Kami tak banyak bercerita. Masing-masing sibuk dengan telepon genggam. Hanya sesekali saling berhadapan. Menunjukkan video lucu di instagram atau sekadar berkata, “Hadeeh, lamanya.”

Tiga puluh menit kemudian ada penampakan kereta di jalur tiga. Tujuan Bogor. Ini kereta yang kami tunggu.

Kami bersiap. Kurapikan posisi tas di depan perut. Kupeluk ringan. Telepon genggam kumasukkan ke saku celana sebelah kiri. Model sakunya ini menempel miring tanpa penutup. Tapi kantongnya agak dalam sampai ke paha. Orang dari belakang mulai mendesak-desak.

“Dai, siap-siap,” kataku menyemangati. Hanya basa-basi. Sesungguhnya aku yang sedang berusaha menguatkan diri. Jujur saja, dia lebih petarung dibandingkan aku soal urusan naik kereta. Aku masih bocah. Dia orang Bekasi asli yang kerja di Jakarta–tapi sekarang dia sudah indekos yaa–.

Kereta semakin mendekat. Desakan makin menjadi. Dari belakang. Kiri dan kanan.

Saat kereta benar-benar berhenti, orang-orang semakin beringas. Dorongan-dorongan semakin kencang. Aku dan Dahlia terpisah.

Kami menyelamatkan diri masing-masing. Selamat untuk masuk kereta.

Akhirnya! Aku senyum lega menyadari tubuhku sudah ada di dalam gerbong. Berhasil!

Tak perlu berpegangan. Peluk erat tas saja. Kami, penumpang, saling mengelilingi di dalam kereta. Menempel. Erat. Tak akan ada yang jatuh meski kereta ngerem mendadak.

Kereta mulai bergerak. Saatnya bertanya Dahlia di gerbong mana. Hati-hati kugerakkan tangan kiri ke bawah. Takut orang lain mengira tanganku mau bergerak eneh-aneh.

Belum sampai jari-jariku di kantong celana, tiba-tiba aku merasa janggal. Kantong celana plong. Rasa tak ada isinya. Tak ada beratnya.

Benar saja. Telepon genggamku dicopet orang.

Selama perjalanan, aku mulai merenung. Mencoba memutar ulang peristiwa desak-desakan tadi. Memang tak biasa. Aku sudah hampir sebulan naik kereta. Desak-desakan itu hal biasa. Tapi tadi itu memang terasa beda. Dibuat-buat.  

Ada orang yang sudah menilik korban. Mengatur gerakannya.

Hari itu, aku jadi salah satu korban pencopetan. Bisa jadi ada korban lain di stasiun yang sama.

Sejak pertama kali menjadi anker, aku sudah memberi stigma kepada stasiun Tanah Abang sebagai stasiun paling beringas yang aku lewati. Maka setelah telepon genggamku itu raib, aku tak mau lagi melewati stasiun itu untuk berangkat atau pulang kerja.

Kalau mau ke kantor, aku berhenti di stasiun Karet lalu memesan transportasi online. Demikian sebaliknya, dari kantor langsung ke stasiun Karet.

Bukannya menyerah karena peristiwa itu. Tapi ada sisi kemanusiaan yang menurutku tereduksi oleh situasi-situasi di stasiun itu. Yang memang sejak menjadi anker, aku sudah merasakannya.