Ada Apa di Toilet Pria Stasiun?

Aku sedang buang air kecil di salah satu urinoir paling pinggir toilet pria stasiun Bekasi. Di samping kananku ada dua orang yang juga sedang [dugaan awal] melakukan aktivitas yang sama.

Saat menikmati kelegaan membuang air seni yang ditahan-tahan dari tadi, aku merasa orang yang persis di samping kananku mengarahkan wajahnya ke aku. Awalnya aku tak peduli. Aku tetap fokus.

Tapi lama-lama aku risih. Kok si Mas ini kayaknya mukaknya ke arahku terus. Kuberanikan menoleh ke kanan sekejap. Benar. Dan nampaknya arah matanya bukan ke wajahku, tapi ke urinoir yang kupakai.

Kuusahakan tetap fokus.

“Kenapa Mas? Airnya tidak keluar?” aku tiba-tiba menolehkan wajahku ke dia. Dalam pikiranku, air pancuran urinoir dia mati. Mungkin dia ingin aku cepat-cepat selesai, agar dia pindah ke urinoir yang kupake.

Gubraakk! Ternyata bukan. Dia mengajakku “begituan”.

Buru-buru aku selesai. Sempat kuumpatkan kata “anjinglah” pada pelecehan seksual itu sambil menarik kancing celana dan meninggalkan toilet.

Saat itu aku masih anak kereta yang culun. Kali ke-6 aku naik kereta rel listrik Jabodetabek.

Sejak kejadian itu, aku selalu berusaha menghindari buang air kecil di toilet stasiun. Sebisa mungkin. Sebelum berangkat ke kantor, aku selesaikan dulu urusan-urusan yang berkaitan dengan metabolisme tubuh ini. Demikian halnya dengan sebelum pulang dari kantor.

Tapi, selama setahun menjadi anak kereta, aku tak selalu berhasil. Terutama saat pulang kantor. Kadang aku lupa dengan urusan ini. Apalagi kalau pulang buru-buru dan larut malam. Dengan ikhlas, kadang aku harus ke toilet stasiun.

Suatu kali, aku harus ke toilet untuk buang air besar. Di stasiun Bekasi.

Fakta di sini jauh lebih mengejutkan. Dinding toilet penuh coretan. Kalau coretan-coretannya seperti dalam cerita Eka Kurniawan, Corat-Coret di Toilet, itu masih menyenangkan. Bisa membuat kita tertawa terpingkal-pingkal atau terinspirasi membasmi koruptor di negara ini dalam sekejap.

Tapi ini beda. Semua coretan-coretannya mengajak berhubungan seksual. Sesama jenis. Ini nomorku, aku jago bla bla bla. Sini aku bla bla bla. Ayo bla bla bla. Silakan kalian lanjutkan. Tak hanya kata-kata, ada gambar-gambar yang melengkapi.

Aku segera menyelesaikan urusan pribadi di toilet itu. Lagi, sebisa mungkin aku menghindari toilet stasiun Bekasi.

Ternyata, tak hanya di stasiun Bekasi. Coretan-coretan vulgar itu ada juga di toilet stasiun Tanah Abang dan stasiun Manggarai. Tapi tidak separah dan sebanyak di toilet stasiun Bekasi. Di stasiun Tanah Abang, tampak ada usaha pembersihan dari petugas toilet. Coretan-coretan itu ada yang ditimpa dengan cat.

Sejak pengalaman pertama menggunakan urinoir di stasiun Bekasi, aku tak pernah lagi memedulikan orang di sampingku saat harus kencing dengan tempat buang air kecil berdiri itu. Pengalaman dilecehkan itu pun tak pernah terulang lagi.

Aku bukan anti dengan teman-teman penyuka sesama jenis. Orientasi seksual adalah hak asasi. Tapi apapun orientasi seksual Anda, jangan pernah melakukan pelecehan.

Pelecehan

“Heh, tanganmu!” Seorang perempuan berteriak. Demikianlah pelecehan itu terjadi.

Di kali ke 56 aku naik kereta rel listrik atau krl, stigma orang-orang pada kereta itu kusaksikan sendiri. Di krl sering terjadi pelecehan seksual. Begitu kata mereka.

Sebenarnya pelecehan seksual tidak mengenal tempat. Bisa terjadi di mana saja. Hanya karena kondisi krl yang selalu penuh penumpang, terutama saat jam berangkat dan pulang kantor, transportasi besi berjalan itu menjadi tempat yang rentan pelecehan terjadi.

Kereta yang mengangkut kami dari stasiun Manggarai ke Bekasi malam itu berjalan seperti biasanya saja. Di malam Kamis, jumlah penumpang ramai.

Waktu itu sudah mendekati pukul sembilan malam. Jumlah kami sudah mulai sedikit berjarak. Aku tak perlu menengadahkan wajah ke atas. Ada ruang-ruang di antara kepala, pundak, leher, dan punggung yang bisa membuatku bernafas sedikit lebih leluasa.

Kereta baru saja meninggalkan stasiun transit Jatinegara. Tak sampai sepuluh menit, kereta sudah mulai lagi melambat. Tanda kereta akan berhenti lagi. Kali ini di stasiun Klender.

Kereta semakin melambat. Semakin pelan. Pengumuman pun sudah berganti dari kereta Anda akan tiba di stasiun Klender menjadi, “Hati-hati pintu sebelah kanan akan segera dibuka.”

Tiba-tiba seorang perempuan berteriak. “Heh, tanganmu!”

Suara itu membuat penumpang di gerbong empat bangun. Bangun dari tidur, bangun dari ketidaksadaran, bangun dari lamunan. Termasuk aku. Mencari sumber suara.

Kami menatap ke arah perempuan yang berteriak. Di depannya seorang laki-laki menunduk salah tingkah.

Jarakku tidak begitu jauh. Hanya dilapis tiga empat orang. Namun aku tak bisa melihat penuh wajah laki-laki itu.

Dia mengenakan jaket abu-abu. Tidak pakai tas. Rambutnya hitam pendek sedikit beruban. Mungkin usianya 43 tahun.

Seorang ibu-ibu melibatkan diri. “Kenapa tadi Mbak?” dia tanya.

“Ini, aku sudah awasi sejak tadi gerak-geriknya, pegang-pegang saya, kamu pikir saya apa?” katanya lantang menghadap si laki-laki. Ia melotot. Si laki-laki menunduk.

Kereta sudah berhenti. Ada yang masuk dan keluar. Kami, yang mengetahui kejadian itu masih melotot kepada si laki-laki itu. Laki-laki yang terus menunduk.

Meski ia menunduk, ia tahu berapa pasang mata yang menatapnya. Sekejap, ia melompat dari gerbong. Hanya barang sedetik, pintu otomatis kereta menutup.

Ia tampak berjalan jauh, jauh. Menjauhi kereta yang turut menjauh.

Demikianlah pelecehan seksual itu terjadi.

Pengalaman serupa kemudian kusaksikan kurang lebih tiga kali selama menjadi anak kereta.