Kita Perlu Berhenti Sejenak

Menyaksikan debat pertama calon presiden dan calon wakil presiden kemarin malam, saya teringat pada Thomas L. Friedman.

Dalam bukunya Thank You For Being Late, ia bercerita kalau di zaman percepatan digital ini, hal yang wajib dilakukan adalah berhenti sejenak. Itu cara meningkatkan peluang untuk mengerti lebih baik dan menghadapi dunia sekitar dengan produktif.

Ia mengutip gurunya Dov Seidman. Ketika Anda berhenti, Anda mulai merenung, memikirkan kembali asumsi-asumsi, membayangkan kembali apa yang mungkin, berhubungan kembali dengan kepercayaan-kepercayaan yang dipegang paling erat. Sesudah melakukan itu, Anda bisa mulai membayangkan kembali jalan yang lebih baik.

Mendengar visi misi dan tanya jawab kedua pasangan calon (paslon) dalam debat kemarin, membuat saya berhenti sejenak.

Benarkah kata-kata adil, makmur, sejahtera adalah kata-kata yang masih ingin kita dengar saat ini?

Benarkah kalimat-kalimat menjamin penegakan hukum, membentuk lembaga hukum yang bersih dan kuat, hukum yang menghadirkan rasa keadilan masih enak didengar telinga saat ini.

Adil, makmur, dan sejahtera hanyalah kata sifat. Yang tidak perlu diucapkan. Karena ia akan terasa jika masalah selesai.

Menjamin penegakan hukum, membentuk lembaga hukum yang bersih dan kuat, hukum yang menghadirkan rasa keadilan juga hanyalah kalimat-kalimat mengambang. Kita sudah mendengarnya jauh, jauh sebelum hari ini.

Lalu apa? Itu yang mestinya digali.

Masa kampanye pesta demokrasi ini sesungguhnya adalah waktu yang tepat untuk berhenti sejenak. Bercermin. Merenung. Di mana posisi Indonesia saat ini. Jika dikaitkan dengan tema debat kemarin, di mana posisi Indonesia dari segi hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Di negara sendiri dan di kancah internasional.

Ini yang harus dikaji. Digali.

Berhentilah sejenak. Mungkin yang perlu dilakukan adalah mengkaji ulang.

Menilik jurnal-jurnal para peneliti. Apa yang ditemui selama ini tentang Indonesia. Bagaimana peneliti melihat posisi Indonesia. Dari segi hukum. Hak asasi manusia. Korupsi. Dan terorisme. Indonesia ada di mana?

Dengan mengetahui di mana posisi Indonesia saat ini, akan muncul strategi-strategi konkret dan tajam untuk diadu. Bukan solusi-solusi yang berdasarkan asumsi, apalagi menurut kami.

Ini yang diumbar kedua paslon dalam debat kemarin.

Paslon nomor urut dua, misalnya mengatakan menurut mereka faktor yang mendorong pejabat publik melakukan tindak korupsi adalah kurangnya gaji. Sekali lagi ini menurut mereka. Saya tidak ingin mengomentari substansinya.

Tapi saya membayangkan jika paslon dua mengatakan, ‘Kami telah mempelajari berbagai hasil penelitian dalam enam bulan terakhir kalau penyebab utama pejabat publik di Indonesia melakukan tindak korupsi adalah kurangnya gaji. Maka jika terpilih, kami akan menaikkan gaji’. Jika begitu saya yakin kualitas debat kemarin akan lebih tajam.

Lalu jawaban paslon nomor urut satu soal pemberantasan terorisme dengan membawa fatwa agama adalah hal yang semestinya tidak terjadi. Indonesia bukan negara agama.

Saya coba membayangkan jika Pak Ma’ruf Amin menyatakan seperti ini, ‘Selama setahun terakhir, kami telah bekerja sama dengan para peneliti dan melakukan penelitian serta kajian tentang terorisme di Indonesia. Dua hal yang akan kami lakukan jika terpilih adalah kontraradikalisme dan deradikalisasi melalui bla bla bla’. Tanpa membawa embel-embel agama, kualitas gagasan Pak Ma’ruf akan lebih kuat.

Itu hanya contoh kecil gagasan dari dua pasangan kemarin. Yang tampak terseok-seok di zaman percepatan ini.

Berhentilah sejenak.