Pura-pura Tidur

Pak Satpam masuk dari sambungan gerbong tiga ke empat. Seorang bapak renta mengikutinya. Bola mata Pak Satpam lincah bergerak ke kiri dan kanannya. Menembus sela-sela di antara orang berdiri. Ia hampir putus asa. Semua orang yang duduk tampak tidur.

Saat itu aku sudah mulai hafal perilaku orang-orang di kereta. Itu malam hari, pulang dari kantor, kali ke 126 aku naik kereta.

Di kereta, ada orang yang bisa tidur berdiri. Tak perlu kau tanya bagaimana mungkin. Keadaan bisa menjadikan apa pun bisa terjadi. Aku pernah menceritakannya di sini.

Ada yang pura-pura serong kiri kanan. Dorong depan belakang. Beragam maksudnya. Ada yang melecehkan orang lain karena nafsu birahi. Ini juga ada ceritanya di sini. Ada pula yang hanya ingin bersandar karena tidak kebagian gantungan tangan.

Bagi yang duduk, tidur adalah pilihan paling nyaman.

Bagi yang benaran tidur. Pertama, mungkin dia kelelahan. Kedua, dia ingin mempertahankan kekuasaan pada kursinya.

Tapi, ada juga yang pura-pura tidur. Wajah yang benaran tidur dengan yang pura-pura tidur sesungguhnya kelihatan jelas. Tapi ya prinsipnya usaha. Tujuannya jelas, mempertahankan status quo pada kursinya.

Demikianlah pada malam itu. Tampaknya Pak Satpam sudah mencari-cari kursi di gerbong tiga kereta yang membawa kami dari stasiun Manggarai ke Bekasi. Tapi tidak ada yang kosong dan tidak ada yang merelakan kursinya untuk si Bapak yang tua renta. Hingga ia sampai di gerbong empat. Si Bapak tua setia mengikut dari belakang.

Wajah Pak Satpam tampak putus asa. Melihat semua penumpang di kursi kiri dan kanan tak ada yang terjaga. Semua tidur. Ada yang menutup wajahnya dengan kopiah, jaket, sapu tangan, ada juga yang tidak sama sekali. Tapi tampak pulas.

Dari tadi sebenarya perhatianku tertuju pada seorang anak muda yang duduk. Mungkin usianya 23 tahun. Kadang ia melirik telepon genggamnya. Lalu menutup mata. Melirik sekeliling. Lalu menutup mata. Sebagai anak kereta yang sudah tidak culun lagi, aku cukup paham tingkah-tingkah seperti ini.

Kubilang sama Pak Satpam, “Mas yang itu coba Pak dibangunkan.” Aku menunjuk pada anak muda itu.

Pak Satpam mendekati si anak muda. Pundaknya disentuh. “Mas,” kata Pak Satpam. Anak muda langsung membuka mata. “Tolong kursinya Mas untuk Bapak ini,” ujar Pak Satpam.

Anak muda itu bergegas. Si Bapak yang renta lalu duduk.